MUNGKID – Tujuh perempuan menampilkan tarian Centhini Gunung di Studio Mendut, Mungkid, kemarin. Tarian ini diperagakan perempuan berbagai latar belakang yang berasal dari berbagai daerah. Di antaranya seperti perempuan penulis skenario, aktris, pemusik, penari dan lainnya.

Penampilan diawali iring-iringan tarian tanpa gamelan. Gerakan yang ditampilkan terkesan tidak seragam. Mereka seakan menunjukkan gerakan itu disesuaikan dengan latar belakang masing-masing penari. Meski berbeda-beda, di antara mereka menunjukkan satu arah gerakan yang beriringan.

Pemilik Studio Mendut Sutanto Mendut mengatakan, para penari ini merupakan perempuan dari daerah perkotaan, seperti Jogjakarta, Jakarta, dan lain sebagainya. Meski mereka berasal dari berbagai latar belakang, tujuan mereka satu, ingin menunjukkan kepedulian tentang pedesaan.

“Mereka merupakan produser dan juga pemain. Selain itu, mereka juga pelaku manajemen promosi. Mereka mampu mengangkat potensi diri masing-masing,” kata Tanto.

Acara tarian ini merupakan agenda pembuka pertunjukan Centhini Gunung di Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, beberapa hari ke depan. Acara itu akan melibatkan 350 seniman dari berbagai grup kesenian di Magelang dan Jogjakarta.

Dalam acara itu juga ada kirab di sepanjang jalan 500 meter di kawasan Gunung Andong. Selain itu akan ada juga acara mengusung sejumlah tandu dan properti lain berupa puluhan bentuk stupa Borobudur serta tetabuhan alat musik tradisional.

“Centhini gunung ini mengangkat bakat orang kota untuk tampil di kalangan desa,” kata presiden Komunitas Lima Gunung ini.

Sementara Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid yang hadir pada kesempatan ini mengatakan, Centhini Gunung ini salah satunya untuk memperingati Hari Perdamaian Internasional. Acara digelar berkat kerja sama Komunitas Lima Gunung, Wahid Institute, dan lainnya. Selain itu, acara ini juga merupakan bagian dari Borobudur Writers and Cultural Festival awal Oktober mendatang.

“Perdamaian datang tidak hanya dari panggung-panggung elite. Tetapi justru datang dari akar rumput. Kali ini acara perdamaian melibatkan perempuan yang bersinggungan dengan isu soal perempuan dan perdamaian,” katanya.

Ia mengaku prihatin dengan konflik yang masih berlangsung di belahan-belahan dunia. Di hari perdamaian ini, diharapkan bisa berlangsung suasana tanpa desingan peluru dan bom selama satu hari penuh. (ady/laz/mg1)