BANDUNG — Pesta olahraga terbesar tanah air, Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 berakhir kemarin (29/9). Setelah lebih dari dua pekan, atlet-atlet Kontingen DIJ akhirnya bisa mewujudkan bahkan melampaui mimpi untuk pulang dengan membawa pulang 16 medali emas.

Dengan perjuangan keras, kontingen hijau, Jogja Istimewa membawa pulang 16 medali emas, 15 perak dan 25 perunggu.

Pencapaian Kontingen DIJ di Tanah Legenda menjadi catatan sejarah baru sejak keikutserataan pertama kali di PON 1948 di Surakarta. Kontingen DIJ tidak hanya menembus lebih dari 15 medali emas yang dibawa pulang, tetapi mendobrak masuk di peringkat 10 besar PON. “Saya sungguh salut dan patut berterima kasih atas dedikasi dan loyalitas para atlet dan pelatih,”ujar Ketua Umum KONI DIJ GBPH Prabukusumo.

Menurutnya, para atlet tidak mengenal lelah dan terus bekerja keras tanpa pamrih hingga tercapainya prestasi terbaik. Dengan segala keterbatasan yang bisa disediakan KONI DIJ, para atlet dan pelatih tetap fokus untuk tidak pulang dengan tangan hampa. Tetapi membuat bangga pada Jogjakarta tercinta. “Prestasi ini akan jadi pemicu untuk kedepan agar atlet-atlet DIJ menjadi lebih baik lagi,”ujarnya.

Semarak PON XIX/2016 juga meninggalkan jejak untuk bisa lebih baik dipenyelenggaraan selanjutnya. Menjadi ajang pembinaan, PON perlu sedikit diberi sentuhan agar kedepan bisa menelurkan atlet-atlet berprestasi di tingkat dunia. “Perlu adanya pembaruan dalam pelaksanaan PON selama ini. Ini penting, mengingat ini sebagai salah satu ajang pembinaan olahraga Indonesia secara menyeluruh,”ujar Mantan Deputi IV Bidang Pembinaan dan Presatasi Kemenpora RI Prof Dr Djoko Pekik Irianti Mkes AIFO.

Beberapa hal penting yang perlu dilakukan perbahan antara lain, PON akan lebih optimal jika hanya mempertandingkan 28 cabor Olympic ditambah empat cabor pilihan anggota KONI, dua cabor pilihan tuan rumah. Dengan nomor yang dipertandingkan maksimal 400 dan atlet yang bertanding minimal telah mengikuti Porda/Porprov di provinsinya.

Penyelenggara atau tuan rumah ada baiknya juga jika diselenggarakan oleh 2 provinsi yang berdekatan dengan prasarana siap 100 persen setahun sebelum pelaksanaan PON. Selain iu, pemain Pelatnas seperti Sea Games, Asian Games, dan Olimpiade tidak boleh ikut bermain dan dilakukan pembatasan usia guna regenerasi.

Namun, atlet yang bertanding sudah harus berdomisili di provinsinya minimal empat tahun agar atlet tidak gampang pindah. Dan perlu juga diperhatikan, adanya wasit atau juri yang bertugas wajib berlisensi setara ASEAN. “Kalau soal bonus, maksimal 50 persen bonus SEA Games,”ujarnya. (dya/din/mg2)