SLEMAN – Jajaran Polsek Kalasan menyita puluhan botol minuman keras (miras) berbagai merek. Penyitaan dilakukan di dua lokasi penjual di kawasan Purwomartani, Kalasan .

Penjualan miras di kawasaan Kalasan ini memang licin. Mereka menggunakan cara sembunyi-sembunyi dan cukup rapi. Salah seorang pelaku Sri, 44, misalnya. Dia hanya menjual miras itu untuk kalangan tertentu. Dia juga menyimpan miras-miras itu di tempat yang tidak biasa, yakni tumpukan pakaian yang ada di lemari.

Kapolsek Kalasan Kompol Haryanta menjelaskan cara itu dilakukan untuk mengindari kejaran petugas. Sebab saat dilakukan sidak di gudaang maupun kotak penyimpanan tidak ditemukan adanya miras. “Sri ini penjual kambuhan. Maka ketika kami mendapatkan laporan pelaku kembali menjual maka kami menggeledah seisi rumah,” jelas Haryanta di Mapolsek Kalasan kemarin (29/9).

Dari tangan pelaku disita barang bukti 22 botol miras dengan kadar alkohol di atas 5 persen. Dari pengakuan pelaku, miras-miras tersebut didapatkan dari wilayah Klaten Jawa Tengah.

Selain dari kediaman Sri, pihaknya juga menyita puluhan botol dari Joko Handoyo. Dari tangan Joko disita minuman keras berjenis anggur. “Keduanya sudah kamia serahkan ke PN Sleman untuk dijerat dengan tindak pidana ringan (Tipiring),” jelasnya.

Humas Polsek Kalasan Sarkowi menyebut penyitaan miras merupakan bagian dari operasi pekat yang dilakukan Polsek Kalasan. “Miras ini sumber dari kejahatan seperti perkelahian dan kekerasan lainnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pramong Praja Kabupaten Sleman juga menyita ribuan botol minuman keras dalam operasi sepekan ini. Total ada 1.327 botol berbagai merk. Sitaan terbesar terjadi saat razia Sabtu malam (24/9). Yakni 1.008 botol.

“Rata-rata memang menyalahi aturan penjualan minuman beralkohol. Padahal itu semua sudah diatur di Peraturan Daerah No 8/ 2007 Tentang Pelarangan, Pengedaran, Penjualan, Penggunaan Minuman Beralkohol,” kata Kepala Seksi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Sleman, Rusdi Rais.Rusdi mengungkapkan dua kecamatan terbesar pengawasan adalah Depok dan Ngaglik. Kedua kecamatan ini menurutnya menjadi lahan subur berdirinya café. Sayangnya dalam praktik berjualan ada yang menjual miras ilegal. (bhn/dwi/din/mg2)