SLEMAN – Tingkat kesehatan gigi dan mulut masyarakat Jogjakarta tergolong tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, sebanyak 93,6 persen di antaranya telah menyikat gigi secara benar. Rata-rata, masyarakat Jogjakarta telah menyikat gigi dua kali sehari. Yakni setelah sarapan dan menjelang tidur.

Hasil riset ini melampaui rata-rata riset nasional yaitu 2,3 persen. Sementara untuk Jogjakarta mampu mencapai 3,4 persen. Dari hasil kajian ini juga terungkap bahwa hanya 32,1 persen masyarakat Jogjakarta memiliki masalah gigi dan mulut.

“Dari total tersebut hanya 10,3 persen yang menerima penanganan. Untuk penyakit tergolong rendah tapi tetap perlu kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut,” kata Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Gigi UGM drg Diatri Nari Ratih M.Kes Sp.Kg, kemarin (29/9).

Tingkat kesadaran kesehatan mulut sendiri terpengaruh beberapa faktor. Menurutnya masyarakat menengah keatas memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Ini terkait ketersediaan waktu dan biaya untuk memeriksakan kesehatan mulut.

Diakui olehnya untuk masyarakat menengah kebawah belum sepenuhnya sadar. Upaya untuk menanggulangi ini adalah adanya pemeriksaan gratis. Kegiatan ini menyasar segmen tertentu untuk sadar memeriksakan kesehatan mulut secara rutin. “Idealnya memeriksakan kesehatan gigi dan mulut enam bulan sekali. Hanya saja memang tidak mudah dengan beberapa alasan. Dengan adanya Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) merupakan cara yang tepat mengkampanyekan kesehatan ini,” ujarnya.

Upaya untuk mewujudkan BKGN dengan pemeriksaan gigi gratis di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UGM. Dari hasil pemeriksaan rata-rata masalah adalah karang gigi. Untuk penanganan ini menurutnya perlu cara khusus.Diatri menjelaskan gigi merupakan bagian tubuh yang sensitive. Apalagi di balik gigi terdapat syaraf yang terhubung ke syaraf otak. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran kesehatan, lubang kecil dapat berimbas besar bagi kesehatan gigi. “Contoh kecil lubang kecil yang dibiarkan lama-lama bisa menyentuh syaraf gusi. Untuk karang gigi juga masih menjadi faktor utama kesehatan gigi. Terbentuk karena sisa-sisa makanan yang menyelip di antara sela gigi,” jelasnya.

Untuk penanganan karang gigi bisa dihindari sejak dini. Cara termudah adalah menyikat gigi secara teratur. Selain itu juga perbanyak konsumsi buah dan sayuran untuk membersihkan makanan yang tersisa. “Lalu periksa secara berkala dan rutin. Penting jangan sampai menunggu menjadi parah baru memeriksakan. Lebih baik mengantisipasi dengan menjaga kesehatan secara rutin,” katanya. (dwi/din/mg2)