KULONPROGO – Ada yang menarik dalam proses pendaftaran pasangan calon Zuhadmono Ashari-BRay Iriani Pramastuti, kemarin (29/9). Pasangan ini berangkat dari rumah mantan Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo, yang notabene merupakan kader militan PDI Perjuangan (PDIP).

Toyo justru mendukung pasangan dari partai lain. Terlebih, calon yang didukung merupakan lawan politiknya semasa pencalonan bupati 2001 dan 2006 silam. “Mereka (Zuhadmono-Iriani, red) intens melakukan pertemuan dan meminta saran. Bagi saya tergantung niatnya, kalau untuk rakyat saya yakin menang. Saya mengenal pak Zuhad karena pernah menjadi lawan saya dua kali. Dia memiliki hati yang luhur,” ucap Toyo S. Dipo usai melepas rombongan Zuhadmono-Iriani di depan rumahnya.

Menurutnya, kendati penah menjadi lawan dan kalah namun tidak pernah punya rasa sentimen. Juga tidak pernah ngisruh (menganggu) saat Toyo memimpin Kulonprogo, bahkan tetap memberi dukungan.

“Kalau saya sebut dia punya hati segoro (hati seluas samudera) dan beliau ini masih banyak yang mengenal dan tahu. Saya sempat bicara pada beberapa orang dan kelompok ternyata masih sangat menengal beliau, padahal sudah sekian lama tidak muncul di publik,” ujarnya.

Toyo mengungkapkan, sebetulnya dia membuka diri kepada siapa saja untuk diminta saran yang terbaik untuk Kulonprogo. Terkait pasangan Zuhadmono-Iriani dia memiliki pemikiran lain. “Bagi saya pemilihan kepada daerah (pilkada) dengan pemilihan legislatif (pileg) itu beda. Kalau Pileg itu memilih partai dan kader partai, sementara pilkada lebih cenderung berpikir siapa calon yang tepat, bukan siapa partainya,” jelasnya.

Memilih calon dalam pilkada harus dilihat jiwanya bagaimana, track record-nya dan lain sebagainya. Sebab, antara eksekutif dan legislatif itu memiliki tugas yang agak berbeda. “Peran eksekutif sangat besar, karena sebagai figur kepala daerah dan bisa memutuskan,” lanjutnya.

Disinggung kenapa sebagai kader PDIP tidak mendukung paslon dari PDIP, Toyo kembali mengatakan, pasangan Zuhadmono-Iriani dinilai lebih baik dari pasangan lainnya.

“Saya menilai pasangan ini lebih nasionalis, lebih demokratis, dan saya yakin mereka menguasai manajemen yang bagus dan berpihak kepada rakyat,” ucapnya.

Toyo juga memiliki pendapat, tidak jarang paslon yang diusung partai yang sedikit justru bisa menang dalam pilkada. Itu juga salah satu pembeda antara pilkada dengan pileg, dalam hal ini figur calon menjadi penentu.

“Tentu saya akan lihat sejauh mana keberpihakan pasangan ini kepada rakyat, saya pantau mulai saat mendaftar dan jika menang nanti,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kulonprogo Sudarto mengungkapkan, PDIP tidak mempermasalahkan sikap Toyo S. Dipo selaku sesepuh dan yang dituakan di Kulonprogo untuk mendukung paslon yang maju dalam Pilkada 2017, karena itu hak demokrasi.

“Beliau berhak memilih dan dipilih. Namun kami serahkan semuanya kepada masyarakat Kulonprogo. Saya tetap yakin dengan pasangan kami (Hasto-Tedjo) karena dia orang asli Kulonprogo. Kalau orang asli Kulonprogo ada yang cerdas dan jujur kenapa harus memilih orang dari luar KP,” ungkapnya politis.

Menurut Sudarto, Hasto Wardoyo juga sudah sowan (mendatangi) ke Toyo dalam beberapa kesempatan. Selain sebagai kader PDIP, posisi Toyo S. Dipo selaku sesepuh memang harus didatangi.

“Saat ketemu calon kami (Hasto) beliau juga mendukung kami, kalau kemudian juga memberikan dukungan ke paslon lain itu juga karena beliau seorang sesepuh. Saya rasa itu tidak akan memicu perpecahan di PDIP,” ujarnya.

Sementara Zuhadmono menyatakan, Toyo merupakan tokoh Kulonprogo. “Kami sepuhkan pak Toyo, bukan melihat dari kader apa, terlebih beliau sudah berpengalaman menjabat bupati dua kali periode. Kami datang ke sana meminta restunya,” ucapnya.

BRay Iriani Pramastuti mengamini, sebagai sesepuh di Kulonprogo dia berharap Toyo memberikan dukungan sepenuhnya. “Beliau sebagai sepepuh kami mintai tutur, wuwur, sembur-nya. Kami bersama-sama koalisi rakyat sejati, koalisi gotong royong untuk gerakan bangkit Binangun Kulonprogo,” ucapnya. (tom/ila/mg2)