BANTUL – Kekhawatiran Komisi C DPRD Bantul terhadap buruknya realisasi pembangunan Pasar Angkruksari terbukti. Komisi yang membidangi infrastruktur ini mendapatkan sejumlah temuan kala melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek pembangunan senilai Rp 12,3 miliar ini kemarin (27/9).

Di antaranya lebar beberapa titik pondasi tidak sesuai dengan spesifikasi. Menurut Ketua Komisi C DPRD Bantul Wildan Nafis, sesuai spesifikasi lebar pondasi seharusnya 70 sentimeter. Tetapi, realisasinya hanya 60 sentimeter. “Kami menyarankan untuk dibongkar,” tegas Wildan di sela sidak.

Temuan lain yang tak kalah mencengangkan adalah pondasi cakar ayam. Kedalaman pondasi tapak ini hanya didesain 140 centimeter. Padahal, kedalaman atau ketinggian pondasi plus dengan sloof 230 centimeter.

“Sloofnya saja 30 sentimeter. Berarti (pondasi cakar ayamnya) kurang 60 centimeter,” paparnya.

Seperti halnya lebar pondasi, Wildan juga menyarankan agar kontraktor membongkar lagi kontruksi pondasi cakar ayam. Atau setidaknya meninggikan kontruksinya. Agar sesuai dengan spesifikasi. Mengingat, pondasi cakar ayam ini diproyeksikan sebagai penyangga bangunan dua lantai. “Ini kan fatal,” ujarnya.

Dengan adanya sejumlah temuan ini, Wildan berjanji Komisi C bakal intensif melakukan pengawasan. Itu bertujuan agar tidak ada mark up dalam realisasi pembangunan pasar Angkruksari. “Wong masalah pondasi saja yang nominalnya kecil sudah curang. Belum yang besi-besi bajanya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Wildan juga menyoroti progres pembangunan pasar yang digarap PT Citra Prasasti Konsorindo (CPK) Cabang Semarang ini. Memasuki kalender bulan kedua, progresnya belum mencapai 10 persen. Padahal, waktu yang tersisa kurang dari 90 hari. “Idealnya sudah mencapai 20 persen lebih,” bebernya.

Project Manager PT CPK Cabang Semarang Totok Wisnu menyatakan, perusahaannya mengacu spesifikasi yang telah dipatok. Kendati begitu, Totok tidak mengelak dengan sejumlah temuan Komisi C.

Pondasi, misalnya. Totok berdalih kontrak kerja PT CPK dalam pengerjaan pasar Angkruksari dengan model per unit price (harga satuan). Dengan model kontrak seperti ini, kontraktor hanya mengejar volume pengerjaan.

Konsekuensinya, kontraktor dapat meminta bayar lebih andai memang realisasinya ada kelebihan. Sebaliknya, kontraktor bakal fair andai anggarannya proyek dikurangi. Menyusul adanya kekurangan dalam pengerjaannya.

“Tidak semuanya kita bisa presisi. Terutama pekerjaan pasangan-pasangan seperti ini. Kecuali barang dari pabrik,” bebernya.

Terkait pondasi cakar ayam, Totok beralasan pihaknya terlalu tinggi mendesain sloof. Sementara, pondasi cakar ayamnya terlalu dalam. Kendati begitu, Totok berjanji bakal mengikuti pengarahan Komisi C. “Ya, akan kami revisi besuk,” ucapnya.

Kendati waktu yang tersisa cukup mepet, Totok tetap optimistis pembangunan pasar Angkruksasi dapat selesai tepat waktu. Yakni, 20 Desember. Toh, pengerjaan yang berat hanya tertinggal satu. “Cuma kontruksi bajanya yang berat,” tambahnya.(zam/din/mg2)