KULONPROGO – Ratusan kubik pasir di sisi barat muara Sungai Serang, Glagah, Temon diangkut puluhan truk keluar dari wilayah DIJ. Penjualan atau penambangan pasir tersebut diduga merupakan kegiatan ilegal karena tidak ada izin.

Puluh truk dengan plat nomor polisi area Kedu mengangkut pasir muara Sungai Serang kemudian dibawa ke luar wilayah Glagah ke arah barat. Truk dengan santai mengangkut pasir tanpa takut.

Padahal mereka melakukannya tanpa izin dinas terkait. Terlebih truk juga melintas di kawasan objek wisata Glagah.

Sejumlah warga sekitar saat ditanya juga enggan menjawab. Namun warga tahu, aktivitas pengangkutan pasir itu telah berlangsung seminggu. Pengambilan pasir dilakukan petang hingga dini hari. Terlihat juga beberapa tenda yang digunakan untuk berteduh bila hujan turun.

Camat Temon Jaka Prasetya mengatakan, sudah mendengar penambangan tersebut. Namun dia belum pernah dimintai izin atau rekomendasi untuk mengurusnya.

Sementara Kades Glagah Agus Pramono juga mengaku tidak mengurusi kegiatan tersebut. Namun dia mengaku kegiatan tersebut merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Lokasinya memang di tanah kas desa. Pasir itu merupakan muara buangan proyek penyedotan yang akan digunakan alur masuk pelabuhan Tanjung Adikarto di Karangwuni,” kata Agus.

Menurut dia, kegiatan tersebut diakomodir tokoh masyarakat Glagah. Hasilnya digunakan untuk kegiatan kampung. “Kalau saya pribadi tidak menerima hasilnya, kendati ada sebagian yang mengalir ke kas desa serta lainnya,” ujar Agus.

Kepala Dinas Perindag ESDM Kulonprogp Niken Probolaras menegaskan, pengawasan penambangan pasir sudah tidak ada di kabupaten. “Kami sudah tidak ada kewenangan soal tambang pasir. Kewenangan dan pengawasannya ada di provinsi,” kata Niken. (tom/iwa/mg2)