JRBL Masih Gunakan Konsep Student Athlete

ADA satu langkah penting yang menjadi syarat utama para peserta Junio JRBL 2016 Jogja Series. Selain sibuk berlatih, mereka juga harus disibukkan memenuhi syarat administrasi. Antara lain menunjukkan nilai rapor, akte kelahiran, ijazah, dan sebagainya. Minggu (25/9) kemarin, peserta datang ke Radar Jogja.

Enggak hanya mengumpulkan berkas administrasi, mereka juga mendapatkan penjelasan seputar campaign kreatif, yang berguna untuk memacu semangat serta euphoria para peserta dan warga sekolah, di sosial media, Instagram maupun Twitter.

‘’Anak SMP itu dinamis dan kreatif, harus diwadahi dan diarahkan. Junio JRBL bukan sekadar pertandingan basket, tapi juga ada kompetisi suporternya. Mereka enggak hanya dinilai bagaimana mendukung tim, tapi juga dengan aksi positif kreatif mereka di sosial media,” jelas event division Junio JRBL 2016 Jogja Series, Masayu Dewi.

Selain itu para peserta juga diberi pemanasan awal untuk menghidupkan jiwa kompetisi mereka. Pada H-15 Junio JRBL 2016 Jogja Series, bersamaan dengan daftar ulang tersebut diadakan Zetizen One on One Challenge.

“Rasanya jadi sangat asyik karena kami juga dapet tontonan temen-temen yang pada main Zetizen One on One Challenge. Jadi makin semangat mempersiapkan diri,” kata Muhammad Jihad dari SMPN 8 Jogja.

Momen daftar ulang juga mempertemukan seluruh kapten tim basket. Menurut Jihad, dia dapet banyak pengalaman karena bisa ngobrol sama temen-temen sekolah lain. Tapi ada juga yang justru ngerasa sedikit nervous ketika sadar bahwa Junio JRBL tinggal bentar lagi. Itulah yang dialami Syifa Hanisa dari SMPN 12 Jogja.

‘’Deg-degan rasanya, tapi semoga Rolas (sebutan untuk SMPN 12 Jogja) tetep kompak. Kami enggak ngejar kemenangan, yang terpenting bisa berjuang optimal dulu,” kata Syifa. Wajar tim putri Rolas baru kali pertama ikut ajang basket SMP terbesar di Jogja yang sudah berjalan 5 tahun ini.

Project Officer Junio JRBL 2016 Jogja Series Ririn Oktaviani mengatakan persyaratan di JRBL memang banyak. Hal itu bukan sebagai penghambat, tapi justru sebagai kelebihan. Karena persyaratan ketat, membuat para siswa serius, dan enggak kecolongan.

‘’JRBL juga menggunakan konsep student athlete. Mereka yang nilai rapornya jelek, atau tinggal kelas, enggak boleh ikut. Basket harus bisa memacu siswa untuk belajar. Jadi enggak ada istilah cuma mentingin ekskul tapi justru melupakan kewajiban semestinya,” katanya.

Junio JRBL 2016 Jogja Series tinggal 12 hari lagi. Persiapkan semuanya dengan baik. Belajar dan berlatih seimbang, dan selamat mengerjakan soal-soal Ujian Tengah Semester. Nilai yang baik membuatmu makin maksimal ketika bertanding nanti. (ata/iwa/ong)