Waspadai Penyakit-Penyakit Pancaroba

JOGJA – Beberapa hari ini banyak masyarakat sekitar merasakan dampak pergantian musim yang ekstrem. Memasuki pancaroba, perubahan suhu dan cuaca secara drastis berdampak pada kondisi tubuh manusia. Patut diwaspadai penyebaran virus yang menyerang sinus, hingga penyakit demam berdarah dan leptospirosis.

Menurut dr Tri Kusumo Bawono saat ditemui di Pukesmas Gedongtengen, perubahan cuaca ekstrem membuat kekebalan tubuh menurun sehingga gampang terkena penyakit. Penyakit yang dimaksud seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), faringitis (radang tenggorokan), diare, demam berdarah, dan leptospirosis.

Setiap penyakit tersebut mempunyai gejalanya masing-masing. Seperti ISPA penderita akan terserang demam tinggi disertai batuk pilek. Penyebab ISPA sendiri bisa disebabkan oleh virus atau kuman yang menyerang sinus, tenggorokan, saluran udara, dan paru-paru.

“Saat terserang ISPA, tubuh tidak bisa mendapatkan cukup oksigen karena infeksi yang terjadi dan kondisi ini bisa berakibat fatal apabila tidak segera ditangani lebih lanjut,” ujarnya ditemui kemarin (27/9).

Selain ISPA, faringitis juga sering menyerang tubuh ketika memasuki musim pancaroba. Penderita yang mengalami faringitis akan merasa kesulitan makan dan minum. Karena adanya peradangan di bagian faring. “Anak-anak lebih sering terserang penyakit ini melalui virus yang ditularkan di sekolah,” ungkapnya.

Sama halnya dengan diare. Penyakit ini juga ditularkan melalui virus maupun bakteri. Persentase jumlah penderita diare pada musim pancaroba terbilang tinggi. Itu karena kondisi sekitar yang tidak higienis dan banyaknya lalat saat musim penghujan datang. Melalui kontak fisik, virus atau bakteri penyebab diare dapat menular dengan cepat. “Perlu diperhatikan pula penyebaran demam berdarah,” ungkapnya.

Dari data di Puskesmas Gedongtengen, mulai awal tahun hingga akhir September ini saja sudah 53 warga terkena penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. “Akibat fatal dari penyakit tersebut adalah kematian. Berbeda dengan Chikungunya, meski penularannya berasal dari gigitan nyamuk namun tidak menyebabkan kematian. Virus yang ditularkan adalah virus Alpha dari gigitan nyamuk yang sama,” ungkapnya.

Tri menambahkan, untuk mengurangi risiko terkena penyakit demam berdarah maupun chikungunya, masyarakat harus menerapkan 3M (menguras, menutup, mengubur). “Selain itu warga juga harus mengecek ulang air dari genangan dispenser dan kulkas untuk mengurangi berkembangnya jentik nyamuk tersebut,” jelasnya.

Tri mengungkapkan, dengan datangnya musim penghujan dikhawatirkan permukiman akan tergenangan air. Jika hal itu terjadi, warga harus mewaspadai penyebaran leptospirosis. Penyakit ini berasal dari bakteri leptospira yang disebarkan melalui urin atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini, seperti air kencing tikus yang terbawa air genangan hujan.

“Intinya terapkan hidup bersih dan sehat untuk mengantisipasi penyakit-penyakit pancaroba,” ungkapnya. (cr1/ila/mg1)