MUNGKID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peta risiko bencana berisi potensi rawan bencana berbagai daerah. Meski demikian, tidak semua daerah menganggap peta risiko bencana ini menjadi dasar program prioritas penanggulangan bencana. Padahal, program pengurangan risiko bencana dinilai lebih penting dibandingkan penanganan bencana.

Kasubdit Pencegahan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana BNPB Raditya Jati mengatakan, bencana alam 80 persennya akibat hidrometeorologi. Hal ini merupakan dampak dari perubahan iklim yang mengakibatkan bencana seperti banjir, tanah longsor, dan lainnya.

“BNPB memiliki program menuju kota tangguh bencana. Berbagai indikatornya yaitu bagaimana melestarikan cagar budaya, penganggaran, program soal lingkungan, dan tata kelola. Yang terpenting saat ini bagaimana daerah memahami soal peta risiko bencana,” katanya saat berkunjung ke Borobudur kemarin.

Menurutnya, BNPB sudah melakukan kajian pengurangan risiko bencana alam dengan target menurunkan indeks pengurangan risiko bencana sebanyak 30 persen. Target ini dicapai sampai 2019 mendatang. Kajian itu meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, selain unsur risiko lainnya seperti ancaman dan kerentanan bencana alam. “Indeks pengurangan risiko indikatornya ada di daerah,” katanya.

Ia menjelaskan, bencana alam juga menjadi salah satu ancaman bagi cagar budaya di Indonesia. Bahkan bencana alam dapat berdampak pada penghidupan masyarakat sekitarnya. Terutama terkait tiga hal yaitu akses, aset dan aktivitas.

Kasus yang terakhir terjadi pada Candi Borobudur berdampak bencana erupsi gunung Merapi pada 2010 silam. Saat itu, sekitar dua bulan candi ditutup akibat terdampak abu vulkanik. Aktivitas perekonomian warga di sekitarnya pun nyaris lumpuh. “Akses, aset dan aktivitas mereka terganggu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang Supranowo mengimbau masyarakat untuk tetap waspada menyikapi cuaca ekstrem saat ini. BPBD juga sudah melakukan beberapa langkah seperti berkoordinasi dengan instansi terkait di Kabupaten Magelang, baik itu relawan, TNI maupun Polri.

“Kami juga terus memantau situasi terkini melalui tim reaksi cepat BPBD di tiap kecamatan,” katanya. Dengan cuaca seperti ini, maka berbagai potensi bencana alam akan muncul. Di antaranya bencana tanah longsor, angin kencang, banjir lahar dingin, dan banjir bandang.

Beberapa potensi bencana ini tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Magelang. “Dari berbagai kecamatan itu ada yang potensi tanah longsornya kecil hingga besar,” jelasnya. (ady/laz/mg2)