SLEMAN – Satuan Polisi Pramong Praja Kabupaten Sleman menyita ribuan botol minuman keras dalam operasi sepekan ini. Total ada 1.327 botol berbagai merk. Sitaan terbesar terjadi saat razia Sabtu malam (24/9). Yakni 1.008 botol.

Operasi ini dilanjutkan kemarin (26/9) dengan menjaring 319 dari dua café. Café pertama terletak di Jalan Magelang. Di sini disita 295 botol. Semetara pada razia kedua di sebuah café di Lempongsari disita 24 botol. “Rata-rata memang menyalahi aturan penjualan minuman beralkohol. Padahal itu semua sudah diatur di Peraturan Daerah No 8/ 2007 Tentang Pelarangan, Pengedaran, Penjualan, Penggunaan Minuman Beralkohol,” kata Kepala Seksi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Sleman, Rusdi Rais.

Operasi ini akan terus dilakukan untuk memberantas penjualan miras ilegal. Penjualan minuman beralkohol sendiri diperbolehkan dengan syarat. Seperti restoran yang menjadi satu kawasan dengan hotel berbintang diperbolehkan.

Sementara untuk café atau resto yang berdiri mandiri wajib mengajukan izin kelas III. Sementara dari café dan resto yang terjaring razia belum memenuhi syarat. Hasil dari operasi ini selanjutnya disita sebagai barang bukti. “Seperti di New Pronto Steak dan Pasta ini. Mereka masih kelas II. Padahal seharusnya kelas III. Jadi, jangan sembunyi-sembunyi seperti ini jualannya,” tegasnya.

Rusdi mengungkapkan dua kecamatan terbesar pengawasan adalah Depok dan Ngaglik. Kedua kecamatan ini menurutnya menjadi lahan subur berdirinya café. Sayangnya dalam praktik berjualan ada yang menjual miras ilegal.

Untuk razia, Satpol PP Sleman menerjunkan tim khusus. Demi mencegah kebocoran tim operasi tidak diberi tahu lokasi razia. Tim ini hanya mengandalkan anggota khusus yang mengawasi langsung. “Jadi saat razia kami hanya ikut di belakang mobil tim khusus ini. Terlebih dahulu tim khusus melakukan pengamatan jauh-jauh hari. Jika memang terbukti baru kami lakukan tindakan,” ujarnya.

Pegawai café Ari Wibowo mengaku tidak mengetahui bab perizinan. Tentang adanya penyitaan dan peringatan akan diberikan ke tim manajemen. “Saya hanya pegawai baru. Jadi kurang tahu tentang itu. Biasanya pembelinya bule-bule,” ujarnya. (dwi/din/mg2)