MUNGKID – Balai Konservasi Borobudur (BKB) dinilai lebih berpengalaman dalam menangani bencana di Candi Borobudur. Hal ini merujuk berbagai potensi bencana di candi yang cukup banyak. Misalnya dampak erupsi Gunung Merapi. Selain itu dampak dari hujan abu Gunung Kelud, Jawa Timur.

“Candi Borobudur memiliki dampak bencana yang paling berat dibanding warisan benda budaya lainnya. Dengan demikian, komponen peralatan yang dimiliki Candi Borobudur pun juga yang paling lengkap,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Harry Widianto saat menghadiri “Lokakarya Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana Pelestarian Warisan” di Borobudur, kemarin (26/9).

Menurut Harry, Candi Borobudur beberapa kali diterpa bencana alam. Hal ini membuat candi Budhha terbesar di dunia ini memiliki berbagai standar operasional prosedur (SOP) penanganan bencana. Baik pra bencana maupun pasca bencana. “Salah satunya saat menangani hujan abu akibat erupsi. Stupa candi harus ditutup dengan pelindung,” jelasnya.

Ia juga mengatakan, dari berbagai bencana ini petugas konservasi pun semakin mengerti cara mengatasi masalah. Baik penanganan secara teori maupun secara praktik. “Di sini lebih berpengalaman dan konkrit,” katanya.

Pada acara lokakarya itu, berbagai elemen hadir. Seperti Alexander Thielitz (Sekretaris Atase Pers dan Kebudayaan Keduataan Jerman di Indonesia), Bernards A Zako (Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta), Kepala BKB Marsis Sutopo, Raditya Jati (Direktur Pencegahan Bencana BNPB), para ahli konservasi dari Jerman dan lainnya. Mereka membahas upaya konservasi jangka panjang untuk situs warisan dunia Candi Borobudur.

Sekretaris Atase Pers dan Kebudayaan Keduataan Jerman di Indonesia Alexander Thielitz mengatakan, pemerintah Jerman memberikan bantuan untuk upaya pelestarian candi ke Indonesia. Dari 2011 hingga saat ini, bantuan yang dikucurkan berkisar 600 ribu Euro atau setara dengan Rp 8 miliar.

“Dana ini diserahkan dari Jerman melalui UNESCO Jakarta. Kemudian bantuan dikoordinasikan dengan kemendikbud. Uang ini di antaranya untuk kegiatan training, workshop, studi banding, dan lainnya,” katanya.

Tahun ke-enam ini pemerintah Jerman memberikan dukungan terhadap konservasi kompleks Candi Borobudur. Kedua pemerintah menggelar kegiatan dengan peningkatan kapasitas untuk konservasi kompleks Candi Borobudur dalam kerangka pengurangan risiko bencana. Proyek ini bertujuan memastikan preservasi dan konservasi jangka panjang untuk situs warisan dunia Candi Borobudur.

Sementara Kepala BKB Marsis Sutopo mengatakan, pihaknya membatasi jumlah kunjungan wisatawan yang naik ke puncak candi. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk penyelamatan Candi Borobudur.

“Pembatasan pengunjung di lantai tujuh hanya untuk 82 orang. Mereka dibatasi untuk naik ke lantai delapan sampai 10,” katanya.

Marsis mengatakan, pembatasan ini dilakukan agar pengunjung tidak menumpuk di lantai atas. Hal ini demi keamanan dan keutuhan candi ini. Pembatasan diterapkan sejak 2011 lalu.

“Hal ini agar para pengunjung tidak hanya berjubel di puncak candi. Selain itu tujuan lain yaitu untuk alasan keselamatan candi,” katanya. (ady/laz/mg2)