GUNUNGKIDUL – Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi hampir merata di wilayah DIJ patut diwaspadai. Terutama warga yang berada di wilayah yang masuk dalam zona rawan bencana. Di Gunungkidul, warga yang tinggal di daerah rawan longsor diminta untuk hati-hati dan mengindahkan early warning system (EWS) yang sudah dipasang di 63 titik di enam kecamatan rawan bencana.

Akibat hujan deras disertai angin kencang kemarin, sejumlah rumah warga di Sumberejo, Semin mengalami kerusakan. Rumah milik Yatno Suwito roboh akibat bencana tersebut. “Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun korban sempat tertimpa bangunan dan mengalami luka ringan. Kami sudah meninjau lokasi, dan memberikan bantuan,” kata Koordinator Tagana Gunungkidul Sumardi, kemarin (25/9).

Selain di Semin, angin kencang juga menerjang perkampungan Ngawis, Kecamatan Karangmojo. Sebuah pohon besar tumbang menimpa bagian kamar mandi rumah milik Adi Marti dan Kusmawati.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Budhi Harjo mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana di saat musim pancaroba. Sebab, berdasarakan perkiraan cuaca Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) hingga seminggu ke depan intensitas hujan masih tinggi.

Karena itu, warga diminta mewaspadai potensi tanah longsor, banjir, angin kencang, dan pohon tumbang. Untuk antisipasi tanah longsor, BPBD memasang EWS di enam kecamatan rawan bencana meliputi, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semin, Ngawen, dan Ponjong.

“Kami juga memasang lima sirine di Kecamatan Purwosari, Gedangsari, dan Tegalrejo,” kata Budhi.

Rambu peringatan, lanjutnya, juga telah terpasang sebanyak 35 unit di sepanjang kawasan pantai. Pemasangan akan terus berlanjut di 15 titik lokasi. Tahun lalu terpasang 63 sirine EWS, sedangkan tahun ini ditambah 20 unit dipasang di Gedangsari, Nglipar.

“Untuk rambu bahaya, BPBD menambah pemasangan di wilayah Giricahyo, Purwosari, dan Semin,” terangnya.

Terkait dengan potensi bencana angin kencang, dia mengimbau kepada masyarakat agar memotong ranting pohon di sekitar rumah. Jika mengetahui pohon sudah tua sebaiknya ditebang. “Antisipasi dari sekarang,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Joko Budiono mengatakan, musim hujan 2016 datang lebih awal. Ini ditandai dengan masuknya musim pancaroba. Berpotensi terjadi hujan lebat disertai petir dan kilat. Termasuk angin kencang serta gelombang tinggi.

Joko mengungkapkan, intensitas tinggi ini terjadi sebelum memasuki musim penghujan pada Oktober yang tinggal beberapa hari lagi. Perkiraan cuaca dari BMKG untuk Minggu (25/9) sampai Senin (26/9) hingga pukul 07.00 akan terjadi hujan dengan intensitas sedang dan lebat disertai petir dan angin kencang. Sedangkan suhu udara antara 23 hingga 32 derajat celcius. “Untuk tinggi gelombang laut berkisar pada ketinggian 2,5 meter hingga 4 meter,” ujarnya.

Sementara itu di Purworejo, cuaca ekstrem berdampak pada petani tembakau. Umumnya petani bisa tersenyum manis melihat tanaman tembakaunya memasuki musim panen. Namun, hujan yang terus mendera menjadikan mereka terpaksa gigit jari.

Hamparan tanah tak seberapa luas di pinggir jalan alternatif Purworejo-Jogjakarta, tepatnya di Desa Ganggeng, Kecamatan/Kabupaten Purworejo terlihat hijau. Setidaknya ada beberapa tanaman musiman yang ada. Sayang, hijaunya tanaman tidak membuat Supriyanto, 68, si pemilik lahan bisa tersenyum puas. Sebaliknya wajah cemas terlihat dari wajahnya.

Tanaman tembakau yang baru berusia 40 hari miliknya terancam gagal panen. Beberapa tanaman terlihat tegar, sementara yang lain terlihat letih dan layu. Dia hanya bisa berharap, tanaman cabai rawitnya akan dapat bertahan dan menghasilnya. Di sela tanaman tembakau dan cabai, Supriyanto juga menyulami dengan tanaman ubi jalar dan mbayung atau daun kacang panjangnya. Hanya, kedua tanaman terakhir biasanya tidak dijual karena dikonsumsi sendiri.

“Ibaratnya saya sudah ngos-ngosan menanam tembakau ini. Tapi, ini sudah tidak bisa diharapkan,” kata Supriyanto saat membuat selokan pembuangan air di lahannya, kemarin (25/9).

Supriyanto mengungkapkan, dia membeli bibit tembakau senilai Rp 60.000. “Kalau hujan terus ya layu mas. Kalau usia tanaman sudah lebih dari 50 hari masih bisa menikmati hasil. Tapi yang kurang dari hari itu ya tidak dapat apa-apa,” katanya. (gun/udi/ila/mg2)