Nama : Achmad Fadli
TTL : Bangkalan, Madura 19 Oktober 1962
Jabatan :
– Sekretaris Kecamatan Gedong tengen
– Kepala Dinas Pengelolaan Pasar 2007-2012
– Asisten Pemerintahan Sekretariat Kota Jogja (sekarang)
FIGUR Achmad Fadli cukup menarik perhatian warga. Terlebih sosoknya cukup dekat dengan para pedagang pasar di Kota Jogja. Kedekatan itu terjalin saat dia masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Jogja.

Achmad Fadli mengawali karir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) Kota Jogja. Setelah itu, dia dipercaya menjadi Camat Wirobrajan. Dari Wirobrajan, Fadli pindah menjadi Camat Gondomanan pada era Wali Kota Herry Zudianto.

Kala itu, Pemkot Jogja sedang berupaya merelokasi pedagang bekas Pasar Sriwedani dan pedagang di selatan Pasar Beringharjo ke Pasar Giwangan. Sebagai kepala wilayah, Fadli memegang peran penting saat membangun komunikasi dengan pedagang.

Hasilnya setelah melewati beberapa kali dialog, pedagang berhasil dipindahkan tanpa ada gejolak. Seluruh pedagang di pasar yang saat ini menjadi Taman Pintar tersebut bersedia pindah ke Pasar Giwangan yang sekarang menjadi pusat perdagangan sayur dan buah-buahan.

Sukses menjalin komunikasi dengan pedagang itu membuar karir Fadli menjadi lapang. Birokrat yang juga menjadi pengasuh sebuah pondok pesantren di Mlati, Sleman itu dipromosikan menjadi sekretaris Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kota Jogja. Tak lebih dua tahun menjadi sekretaris, Fadli lantas naik level sebagai kepala dinlopas. Sebelum sebagai orang nomor satu di dinlopas, dia lebih dulu menjabat pelaksana tugas (Plt) kepala dinlopas.

Saat menjadi kepala dinlopas, Fadli kembali berperan saat pemkot merelokasi pedagang klitikan Jalan Mangkubumi dan Jalan Asem Gedhe pada 2008. Terakhir, kiprah Fadli adalah saat bedol desa seluruh pedagang di Pasar Burung Ngasem ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy) di Jalan Bantul. Prosesi pindahan saat itu seperti arak-arakan pernikahan kerabat Keraton. Jalan Bantul kala itu macet akibat banyaknya pedagang dan masyarakat yang menyaksikan arak-arakan tersebut.

Hubungan Fadli dan pedagang pasar memang dekat. Ketika dia ditugaskan menjadi Assekot Bidang Pemerintahan Kota Jogja pada 2012 silam, ribuan pedagang pasar mengantarnya dari Pasar Beringharjo menuju balai kota. Momen itu sempat ditulis Radar Jogja pada edisi 26 April 2012 silam.

Kala itu, dia diboncengkan becak untuk memutari balai kota sampai pendapa. Seluruh pedagang di Kota Jogja tumplek blek memenuhi ruang utama kantor pemerintahan tersebut. Grup pengamen Pasar Beringharjo juga menyumbangkan lagu untuk kepindahannya.

Berkat tangan dingin pejabat asal Madura tersebut, hampir tak pernah terjadi gesekan antara pedagang dengan pemkot. Relokasi yang biasanya menimbulkan konflik selalu berjalan mulus.

Tak heran jika akhirnya Imam Priyono (IP) memilihnya sebagai pasangan.

Pengalaman Fadli selama di birokrasi Pemkot Jogja yang membuat IP merasa cocok untuk maju dalam Pilwali Kota Jogja 2017 bersamanya. Menurut IP, pengalaman Fadli sebagai Assekot Bidang Pemerintahan menjadi nilai tambah karena membawahi langsung camat dan lurah, sehingga tahu kondisi di lapangan.

“Di birokrasi beliau tahu betul sehingga sesuai harapan kami untuk pembangunan berbasis wilayah,” jelas IP. (pra/kus/ila/ong)