JOGJA – Hasil operasi tangkap tangan petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ menjadi bukti betapa lemahnya pengawasan pere-dara narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika, Pakem, Sleman.

Bagaimana tidak, tersangka RD, yang notabene berstatus narapidana dan mendekam di dalam lapas masih bisa mengendalikan pereda-ran barang haram itu dari balik jeruji

Kepala BNNP DIJ Kombes Pol Soetarmono mengatakan, terungkapnya kasus penyalahgunaan narkotika di lapas bermula dari penangkapan ter-sangka LSD pada Senin (15/8) sekitar pukul 13.15 di Jalan Kaliurang KM 17, antara Lapas Pakem dan R.S Grhasia. Tepatnya di halaman parkir Elektro Medik R.S Grhasia.

LSD berperan sebagai peran-tara pengambil narkotika dari lokasi tertentu, untuk selanjutnya melemparkan paket nar-koba tersebut ke dalam lapas.

LSD merupakan orang suruhan RD. Dari tangan LSD petugas mendapati narkotika jenis sabu-sabu yang dikamuflasekan dalam kemasan malam (plastisin).

Dari penggeledahan di tubuh tersangka, petugas juga mene-mukan paket pil ekstasi, yang juga dibungkus plastisin.

“Hari sebelumnya petugas juga meng-gagalkan upaya pengiriman narkoba dengan cara dilempar dari luar lapas menggunakan plastisin,” papar Soetarmono kemarin (19/8).

Cara melem-parkan paket narkotika dari luar pagar lapas sebenarnya bukan modus baru. Berkali-kali aparat BNNP maupun Satnarkoba Polres Sleman pernah mengungkap hal serupa.

Dari LSD, petugas memperoleh informasi bahwa RD berperan sebagai aktor intelektual di balik perkara tersebut.

“Setelah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham DIJ, keesokan harinya kami lantas menggeledah sel RD,” lanjut perwira Polri dengan tiga melati di pundak.

Di sel RD petugas BNNP mendapati barang bukti berupa sebuah handphone merek Sony beserta tiga buah simcard dan sebuah bong (alat penghisap sabu).

Menurut Soetarmono, RD me ngaku telah memesan sabu-sabu dan ekstasi dari luar lapas. RD memesan pil setan dari ESG, tersangka lain, melalui kontak telepon seluler.

Mendapat informasi tersebut, petugas BNNP tak mau buang waktu memburu ESG. Secara marathon, satu per satu tersang-ka berhasil ditangkap. ESG dico-kok di di rumahnya yang berada di Klaten, Jawa Tengah pada Rabu (17/8).

Dari penggeledahan rumah ESG, aparat mendapati barang bukti 238 butir ekstasi, ganja kering seberat 9,64 gram dalam termos minuman, dua paket sabu (masing-masing se-berat 5 gram), dan dua paket sabu lain dengan berat masing-masing 1 gram.

Pada hari yang sama, petugas lantas mengejar ZM.

Dia adalah konsumen ESG, yang juga berasal dari Klaten. ZM ditangkap di rumahnya sekitar pukul 15.30. Dari tangan ZM petugas mendapatkan 21 paket kecil sabu.

“Atas per-buatan mereka, para tersangka kami jerat dengan pasal berlapis sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Dengan ancaman 20 tahun penjara hingga hukumn mati,” tegas Soetarmono. (riz/yog/ong)