JOGJA-Siapa tidak mengenal sosok seniman kondang ini. Dialah Untung Basuki, budayawan yang puluhan tahun malang melintang di dunia seni seni teater dan puisi.

Ditemui di rumahnya, di Ngadisuryan, Patehan, Kraton, seniman grapyak ini sangat antusias menceritakan kiprahnya selama ini. Untung bergabung di Bengkel Teater Jogjakarta sejak tahun 1970-an. Bapak dua anak ini sering terlibat dalam acara-acara kesenian di dalam maupun luar kota. Baru-baru ini, dia dan sejawatnya menggelar konser “Kesaksian Rendra” yang diadakan di Jakarta. Acara tersebut digelar untuk mengenang 7 tahun berpulangnya penyair W.S. Rendra.

Padahal, hari-harinya masih disibukkan dengan melatih teater di beberapa sekolah dan kampus. Diantaranya, SMA St. Michael, Warak, Sleman; SMA Santa Maria, Kota Jogja; dan Universitas Duta Wacana. Di tengah kesibukkannya yang padat, Untung masih sempat mencipta lagu-lagu puisi.

Karya-karya yang ditulis merupakan inspirasi yang didapat dari karya W.S. Rendra. Tak berhenti sampai di situ, Untung juga berkarya melalui lukisan. Sering kali lukisan sketsanya dipamerkan diberbagai acara kesenian.

“Rendra adalah salah satu guru bangsa yang mengajarkan banyak hal pada diri saya pribadi,” kenang alumnus Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI).

Seiring bertambahnya usia, Untung yang sudah menginjak 67 tahun mulai menurunkan ritme kerjanya. Dia mengaku tak banyak yang dilakukan sekarang. Dalam sebulan, Untung hanya mau menerima satu atau dua tawaran saja. Untuk acara-acara ke luar kota. Selebihnya ia lebih banyak menikmati sisa hidupnya yang sederhana bersama istri, Melani Sri Sukapti.

Di usianya yang mulai senja, Untung berharap generasi muda mampu mempertahankan eksistensi kesenian teater. Dan lebih aktif lagi terjun langsung menghidupkan kegiatan seni di Indonesia. “Banyak anak-anak muda saat ini masih enggan untuk menampilkan potensi mereka ke ranah publik,” tuturnya. (c1/yog/ong)