BANTUL – Penanganan perkara dugaan malapraktik yang menimpa Sumarsih, salah seorang pasien RS Rachma Husada, bakal bergulir. Kanit II Subdit III Ditreskrimsus Polda DIJ Kompol Bambang Priyana menegaskan, pihaknya bakal meningkatkan status penanganan kasus ini menjadi penyidikan.

“Ini kan baru penyelidikan. Ini mau ditingkatkan ke penyidikan,” tegas Bambang kemarin (2/8). Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi naiknya status penanganan ini. Bambang menyatakan, malapraktik berbeda dengan tindak pidana lainnya.

Dalam Pasal 29 UU No 36/2009 tentang Kesehatan disebutkan, penyelesaian konflik antara rumah sakit dan pasien bisa melalui musyawarah. Penanganan melalui jalur hukum baru bisa ditempuh bila musyawarah antara kedua belah pihak menemui jalan buntu.

Sayangnya, RS Rachma Husada tidak dapat memaksimalkan kelonggaran ini. Menurut Bambang, RS Rachma Husada pernah meminta waktu hingga setelah Lebaran untuk menyelesaikan perkara ini melalui jalur musyawarah. Namun hingga sekarang belum juga ada titik temu antara keluarga Sumarsih dan rumah sakit swasta yang terletak di Jalan Parangtritis itu.

“Ini kok belum clear,” ucapnya. Sulitnya memanggil RS Rachma Husada juga turut menyumbang naiknya status penanganan ini. Selama tahap penyelidikan, Polda DIJ baru meminta keterangan tiga orang. Itu pun semuanya dari saksi pelapor atau keluarga Sumarsih.

Kepolisian belum pernah memanggil RS Rachma Husada, karena pihak RS menolak diperiksa. Mereka beralasan baru bersedia diperiksa bila status penanganan telah sampai ke tahap penyidikan. “Padahal undangan (pemanggilan) sudah kami kirim,” lanjutnya.

Bambang memastikan naiknya status penanganan dalam waktu dekat ini. Seluruh pegawai RS Rachma Husada, mulai petugas administrasi, perawat hingga dokter yang mengetahui dugaan malapraktik ini, bakal dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. “Dari pemeriksaan ini akan diketahui siapa tersangkanya,” tandasnya.

Dirreskrimsus Polda DIJ Kombes Pol Antonius Pujianto menambahkan, jumlah kasus dugaan malapraktik yang ditangani polda cukup banyak. Hanya mayoritas telah dicabut oleh pelapornya. Termasuk di antaranya perkara hilangnya cuping hidung pasien RSUD Panembahan Senopati bernama Wakiyah. Laporan ini dicabut beberapa waktu lalu. “Mungkin sudah ada ganti rugi,” tambahnya.

Sementara itu, kuasa hukum RS Rachma Husada Tri Suyud Nusanto belum dapat dikonfirmasi mengenai rencana naiknya status penanganan dugaan malapraktik ini. Tetapi, kabarnya RS Rachma Husada bakal menjelaskan berbagai hal tentang dugaan malapraktik ini secara gamblang kepada publik hari ini. (zam/laz/ong)