BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
BANGGA: Suparno dan Jami, orangtua Letda (Inf) Tri Ageng Widhi Nugroho ST Han, menunjukkan foto saat anaknya diwisuda oleh Presiden Joko Widodo di Lembah Tidar Magelang.

Prestasi Menonjol, Prajurit Terbaik Yang Masih Pegang Sabit

Tumbuh dan besar di desa tidak menjadikan Letda (Inf) Tri Ageng Widhi Nugroho ST Han lupa jati dirinya. Sikap bersahaja dan sopan dengan siapapun tetap dia jaga. Tak ayal, lingkungan tempatnya berasal menaruh simpati atas hasil yang diperoleh sebagai lulusan terbaik Akademi Militer 2016 tersebut.

BUDI AGUNG, Purworejo

RUMAH tembok sederhana yang berada di RT 3/RW 2 Megulung Kidul, Pituruh, Kabupaten Purworejo dipasang tratag seng menutup seluruh halaman, kemarin (27/7). Beberapa anak kecil terlihat bermain sepeda di halaman yang tak lagi tersengat matahari di kala siang itu.

Tidak tampak kesibukan berarti di bagian depan rumah, hanya kepulan asap dari belakang rumah panjang itu saja yang terlihat. Beberapa ibu-ibu terlihat mondar-mandir keluar masuk pintu bagian belakang.

“Mau ada tasyakuran untuk Mas Widhi (sapaan Tri Ageng Widhi Nugroho) yang baru saja lulus di Akmil,” kata ibu-ibu berkaus merah yang melintas di halaman rumah.

Ya, hari itu keluarga Letda (Inf) Tri Ageng Widhi Nugroho ST Han mengadakan syukuran. Sebagai bentuk rasa syukur dan bahagia, karena si bungsu meraih Adhimakayasa dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Orangtua Widhi, Suparno, 52 dan Jami, 51, menuturkan sejak kecil sang anak memang bercita-cita menjadi tentara. Tak heran, jika semangatnya ini membuahkan banyak prestasi. Itu terlihat dari koleksi medali dan penghargaan yang pernah diperoleh Widhi saat mengikuti pendidikan kawah candradimuka di Lembah Tidar, Magelang.

“Widhi memang sejak kecil sudah bercita-cita jadi tentara. Idolanya Jenderal Soedirman dan Pak Sarwo Edhi Wibowo, kata Suparno.

Tanda-tanda keinginan si bungsu meniti karir di militer telah dirasakan Suparno sejak Widhi masih kecil. Alat mainan yang diinginkannya adalah kendaraan militer, utamanya panser.

“Yang saya ingat, saat usia empat tahun hidungnya kemasukan biji jeruk. Setelah ke rumah sakit dan bisa diambil, saya menawarkan apa yang diinginkannya. Dia hanya menjawab minta dibelikan panser mainan,” ungkap Suparno.

Suparno mengungkapkan, saat Widhi mengutarakan niatnya masuk Akmil, dia merasa pesimistis. “Saya pernah mengingatkan untuk mengurungkan niatnya masuk Akmil, karena menurut saya Akmil itu terlalu tinggi. Lebih baik masuk Secaba saja,” katanya.

Namun, jawaban anaknya membuatnya luluh. Kala itu Widhi hanya berucap, jika tak mencoba ibarat kalah perang sebelum bertanding. Suparno lantas merestui Widhi mendaftarkan diri.

Akmil sebenarnya bukan langkah awal Widhi, karena di tahun sebelumnya pernah mencoba peruntungan di Akademi Angkatan Udara. Karena syarat administrasinya tidak lengkap, dia gagal. Dia menunggu satu tahun sebelum mendaftarkan diri ke Akmil. Sambil menunggu waktu dia sempat bekerja sebagai buruh bangunan di proyek pengairan di Megulung, Kecamatan Pituruh) selama satu bulan dan Kampung Makassar, Jakarta setengah tahun.

Suparno mengaku dalam mendidik anak-anaknya, dia memberi penekanan pada sikap disiplin. Tak ayal, sejak duduk di bangku SD kelas 2, Widhi yang lahir di Prafi, Papua Barat, 9 Maret 1992 telah melakoni salat lima waktu tepat waktu.

“Dalam hal ini memang saya disiplin, kalau dia tidak melakukannya saya akan memukulnya. Ternyata itu sangat efektif dalam tumbuh kembangnya, karena akan memunculkan sikap disiplin,” jelas Suparno.

Selain disiplin, sikap tanggung jawab juga telah terlihat. Bermodalkan uang hasil juara Porda tingkat kabupaten ditambah uang tabungannya, Widhi menukarnya dengan seekor kambing. Tak mau merepotkan orang tuanya, dia turun langsung ke sawah untuk memberi pakan kambingnya.

“Bagaimanapun lelahnya, kalau sampai rumah dia akan mencari rumput, tidak hanya untuk kambingnya, tapi juga kambing-kambing saya,” kata.

Dalam kesempatan pulang saat menimba ilmu di Akmil Magelang, merumput tetap dijalani Widhi yang lulusan SMPN 20 Purworejo ini. Tidak ada rasa canggung sebagai seorang taruna militer, Widhi akan berlaku seperti layaknya anak kampung.

“Tidak hanya sekedar ngarit (merumput). Kalau sedang panen, dia ataupun kakak-kakaknya ya akan ikut membantu membawa hasil panen ke rumah,” kata Jami, sang ibu.

Kini, setelah dinyatakan sebagai Lulusan Terbaik, Suparno maupun Jami mengaku bangga dengan putranya. Karena sang anak, mereka bisa bertemu dengan pembesar-pembesar di negeri ini.

Rasa bangga tak hanya menyelimuti orangtuanya, tetangga juga ikut senang dengan keberhasilan Widhi. Terlebih, dia dikenal sebagai sosok yang baik. Ketua RT 3/RW 2 Tugimin menuturkan, Widhi dikenal sebagai anak yang lincah dan entengan dalam membantu tetangganya. (ila/ong)