Abraham Genta B / Radar Jogja
 
Masih berusia 23 tahun, Raymond Ivantonius Tauntu bertekad bisa meraih jenjang level tertinggi dalam karir sepakbolanya. Dalam proses menuju mimpinya, pemain gelandang serang PSIM Jogja ini terus mengasah kemampuan dan mental. Tak dipungkiri, untuk bisa bermain di kompetisi professional ataupun masuk ke tim nasional (timnas) tak semudah membalikan tangan. Untuk itulah, selagi masih muda dan memiliki waktu untuk mengeksplorasi diri, Raymond tak ingin berhenti hanya sampai di titik ini dalam karir sepakbolanya.

“Mumpung masih muda, kalau bisa dua atau tiga tahun ke depan saya bisa mencapai level tertinggi dalam karir sepakbola,” katanya, kemarin.

Sepak bola bukan hal yang asing bagi pemain kelahiran Makasar ini. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) , dirinya sudah merasa enjoy bermain sepakbola. Hingga muncul cita-cita dalam benaknya, suatu saat bisa menjadi pemain sepak bola.

Cita-cita itupun mulai terwujud, begitu dirinya bergabung dengan Makasar Football School di tahun 2000. Bersama klubnya saat itu, Raymond berhasil merajai kejuaraan nasional (Kejurnas) sepak bola U-12. Berkat keberhasilan itu, bersama tim menjadi wakil Indonesia terbang ke Perancis untuk menjajal kemampuan dengan pemain junior dari berbagai negara di dunia.

Pengalaman itu begitu masih jelas terngiang dalam benak anak asuh Allenatore Erwan Hendarwanto ini. Bisa bermain melawan tim dari negara-negara kuat seperti Inggris, Italia, Perancis, Rusia dan Belgia.

“Masih kecil banget waktu itu, ke sana aja dibawakan bekal oleh ibu, nasi, telur, dan ikan kering. Tapi pengalamannya luar biasa, kami sempat menang lawan tim besar seperti Inggris dan Italia,” tutur pemain bernomor punggung 29 ini.

Dirinya merasa beruntung, jadi satu dari sekian banyak anak seusianya waktu itu yang menjadi wakil Indonesia bisa menjajal lapangan rumput di negeri orang. Bangga luar biasa. Pengalaman itulah yang juga memotivasi dirinya untuk bisa kembali masuk ke Timnas dengan level usia berbeda.

Mimpinya sempat terhenti, ketika kompetisi sepakbola Indonesia vakum di tahun 2015. Tapi, kecintaannya pada si kulit bundar tak ingin dilepaskan begitu saja. Dirinya pun mengisi waktu dengan bermain di liga futsal.

“Tetap beda, lebih nyaman di sepak bola lapangan besar, feel-nya lebih dapat disana. Karena sudah dari kecil sepakbola terus,” ungkap pria yang saat itu tetap berfikir positif dunia persepakbolaan Indonesia kembali membaik.

Harapannya pun terwujud. Dunia sepakbola kembali bergeliat. Dirinya pun bisa ikut mencicipi Indonesia Soccer Championship (ISC) Seri B bersama Pangeran Biru. Tekadnya bisa bermain di liga Indonesia ataupun masuk Timnas semakin bulat.

“Semoga rejekinya bisa kesana di usia 25 atau 26 tahun nanti. Harapannya sih PSIM yang naik level,” ujarnya.(dya/dem/ong)