SLEMAN – Perkembangan koperasi di wilayah Sleman menunjukkan tren positif. Tiap tahun selalu terbentuk lembaga baru yang mengusung semangat ekonomi kerakyatan itu. Di sisi lain, jumlah koperasi tidak aktif juga meningkat. Saat ini tercatat sedikitnya 48 koperasi bermasalah.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Sleman Pustopo mengatakan, koperasi bermasalah disebabkan bebeberapa hal yang lebih bersifat internal. Diantaranya, buruknya sistem manajemen, komunikasi antara pengurus dan anggota tidak sinkron, hingga masalah penggelapan uang anggota.

Pustopo mengakui, peningkatan jumlah koperasi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas lembaga. Langkah awal yang ditempuh dinas untuk mengurai benang kusut koperasi dengan mediasi. Kecuali, kasus penyelewengan keuangan. “Kalau itu kami serahkan ke jalur hukum. Kami hanya menertibkan koperasi yang bermasalah (manajemen),” jelasnya kemarin (20/7).

Disebutkan, pada 2015 jumlah koperasi di Sleman sebanyak 646 lembaga. Dibanding tahun sebelumnya terjadi penambahan 17 unit. Meski banyak koperasi bermasalah, Pustopo menilai pertumbuhan jumlah lembaga ekonomi skala kecil itu menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.

Menurut Pustopo, koperasi merupakan aset penting dalam peningkatan perekonomian. Bertambahnya unit berdampak juga pada peningkatan jumlah keanggotaan koperasi. Saat ini jumlah anggota koperasi se-Sleman sebanyak 275.246 orang. Dengan total aset lebih dari Rp 1 triliun. Dari perputaran modal yang tersedia, seluruh koperasi mampu mendapatkan sisa hasil usaha (SHU) mencapai Rp 29 miliar. Karena itu, dinas berupaya menyehatkan koperasi yang sedang sakit. Demi kesejahteraan para anggota.

“Kami masih telusuri permasalahan di beberapa koperasi. Termasuk mendalami bila ada laporan penyelewengan keuangan,” lanjutnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, koperasi di Sleman harus bisa bergerak maju. Untuk itu diperlukan penguatan lembaga.

“Kopeasi ini sangat cocok bagi kondisi masyarakat yang didominasi pelaku usaha kecil mikro,” tuturnya. (bhn/yog/ong)