SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
KLARIFIKASI : Karo Ops Polda DIJ Kombes Pol Bambang Pristiwanto (tengah) didampingi Kapolresta Jogjakarta Kombes Pol Tommy Wibisono, dan Kabid Humas Polda DIJ AKBP Ani Pudjiastuti saat memberikan keterangan kepada para wartawan mengenai kejadian pengamanan rencana aksi mahasiswa Papua kemarin (19/7).
JOGJA – Polda DIJ memberikan penjelasan terkait banyaknya kabar yang beredar mengenai kejadian pengamanan rencana aksi mahasiswa Papua, Kamis-Jumat (14-15/7) lalu. Pihak kepolisian tidak memberikan izin aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), karena disinyalir berbau gerakan separatis.

Karo Ops Polda DIJ Kombes Pol Bambang Pristiwanto mengatakan, Polda DIJ sebagai penanggungjawab wilayah mengamankan AMP apabila dalam aksinya berbau separatis Papua Merdeka. Termasuk rencana longmarch atau orasi memperlihatkan Bintang Kejora.

“Kami menindak tegas dan tidak membolehkan keluar dari asrama. Polresta Jogjakarta dan backup Polda DIJ berupaya tidak terjadi longmarch dan orasi. Karena itu kemarin sedikit ada chaos. Mereka memaksa keluar, kami tahan. Silakan melakukan kegiatan tapi di dalam. Kami menahan tidak keluar,” katanya di Mapolresta Jogjakarta, kemarin.

Perwira tiga melati di pundak itu mengatakan, dampaknya sempat terjadi ketegangan dan gesekan antara massa dan petugas kepolisian. “Dampak pasti ada, insiden kecil itu wajar. Dari yang diamankan hanya satu karena memukul petugas dan sudah diakui. Dipulangkan tidak dilakukan penahanan. Diwajibkan lapor diri karena ada penjaminnya,” imbuhnya.

Kapolresta Jogjakarta Kombes Pol Tommy Wibisono menyebutkan, pihaknya membantah foto-foto yang banyak beredar di media sosial seperti seorang pendemo yang diinjak kepalanya. “Gambar yang beredar itu hoax. Saya juga juga heran ada yang hidungnya ditarik. Itu tidak tahu di mana. Tim kami sedang mendalami. Ada juga yang dicat menyerupai bintang kejora itu foto kapan. Kami tegaskan yang menggambarkan Jogja tidak aman itu hoax,” ungkapnya.

Karo Ops menambahkan, saat polisi melakukan pemeriksaan, didapati beberapa benda berbahaya seperti beberapa anak panah dan pentungan. Semua benda tersebut sudah diserahkan ke bagian Reserse Kriminal Umum Polda DIJ. Namun meskipun dicurigai berencana melakukan aksi berbau separatis, polisi tidak menemukan bendera atau atribut bintang kejora. “Pada saat kejadian tidak ditemukan. Kami belum masuk ke asrama. Kami belum menemukan. Tidak masuk ke dalam. Hanya menahan agar tidak keluar,” ujarnya.

Bidang Hukum dan Ambulance Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jogja Edi Haryanto membantah adanya penahanan mobil ambulance oleh polisi. Mobil tersebut sebelumnya akan membawa logistik untuk mahasiswa di dalam asrama. Edi mengatakan, saat kejadian stafnya dihubungi seseorang bernama Ernawati untuk mengantar makanan. “Ada tiga orang, Erna, Joice dan satu cewek. Meminta untuk diantarkan logistik ke asrama Papua di Jalan Kusumanegara,” ujarnya.

Mendapat permintaan logistik, dia dengan membawa mobil PMI datang ke lokasi. Sesampainya di pos penjagaan hotel dekat asrama, ia menghubungi Erna untuk mengambil logistik tersebut namun berkali-kali tidak diangkat. “Ditunggu-tunggu tidak muncul kita balik kanan. Terus muncul broadcast katanya mobil PMI ditahan. Itu tidak betul. Jumat malam logistik mi, air minum dan nasi bungkus diambil Erna di kantor PMI,” ungkapnya. (riz/din/ong)