JOGJA – Pemprov DIJ mengambil langkah taktis dalam pemanfaatan Pelabuhan Tanjung Adikarto di Kulonprogo. Sambil menunggu peninjauan ulang rencana tata ruang dan wilayah (RTRW), Tanjung Adikarto akan dikemas menjadi destinasi wisata baru.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIJ Sigit Sapto Raharjo, kolam-kolam di sepanjang pelabuhan bisa disulap menjadi sarana rekreasional. Misalnya, untuk kano atau perahu bebek kayuh. Area pelabuhan juga terbuka untuk kegiatan lain masyarakat. “Pernah untuk lomba drumband dan acara temanten,” ungkapnya, Sabtu (16/7).

Mantan penjabat Bupati Bantul memperkirakan, peninjauan ulang RTRW bisa berlangsung lama. Karena itu, pelabuhan harus dimanfaatkan agar lebih bermanfaat bagi warga setempat. Sebgai sarana rekreasi, Tanjung Adikarto bisa mendatangkan tambahan pemasukan bagi masyarakat. Apalagi, pemprov tak akan memberlakukan pungutan retribusi untuk kegiatan tersebut.

Tak sedikit pedagang mengajukan izin untuk membuka usaha warung dan rumah makan di pelabuhan yang berlokasi di Desa Karangwuni, Wates. “Pedagang yang masuk kami terapkan perjanjian, kalau pelabuhan jadi mereka harus mau direlokasi,” tegasnya.

Sigit mengatakan, pembangunan Tanjung Adikarto dilanjutkan pada 2017. Target waktu penggarapannya selama tiga tahun.

Pelabugan tersebut diproyeksikan untuk menampung kapal-kapal nelayan berbobot lebih dari 100 grosston. Saat ini, sarana yang tersedia hanya mampu menampung kapal nelayan berukuran kecil berbobot 30 grosston.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kulonprogo Astungkoro menyatakan, selama 2016 pembangunan Tanjung Adikarto lebih difokuskan pada penataan manajemen. Hal itu dilakukan untuk menaikkan status Tanjugn Adikarto menjadi pelabuhan perikanan pantai. Bukan lagi sebagai pangkalan pendaratan ikan (PPI) seperti sekarang.(pra/yog/ong)