DINAS KESEHATAN (Dinkes) DIJ kembali menegaskan jika di wilayah DIJ bebas vaksin palsu. Hal itu juga sesuai dengan rilis fasilitas kesehatan yang menggunakan vaksin palsu oleh Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek.

“Sampai saat ini vaksin palsu belum ditemukan pada layanan kesehatan di DIJ,” ujar Kepala Dinkes DIJ Pembajun Setyaningastutie ketika dihubungi kemarin (15/7).

Pihaknya juga sudah mengeluarkan surat edaran ke dinkes kabupaten dan kota di seluruh DIJ untuk melakukan pengawasan. Pembajun menegaskan, meski ada salah satu rumah sakit swasta di DIJ yang diduga sebagai pemasok botol bekas vaksin, namun hal itu bukan berarti di DIJ beredar vaksin palsu.

Menurutnya, sesuai regulasi yang ada, botol bekas vaksin harus dimusnahkan, tidak boleh digunakan lagi. “Kalau aturannya harus segera dimusnahkan,” tandas mantan Direktur RS Grhasia itu.

Pejabat yang baru dilantik pada Rabu (13/7) itu menambahkan, sesuai regulasi yang berlaku, limbah medis termasuk bekas botol vaksin harus dikelola dengan baik oleh rumah sakit secara mandiri. Atau dengan pihak lain yang punya kewenangan dan izin dari pemerintah.

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ juga sudah tidak melanjutkan pengecekan ke fasilitas kesehatan terkait keberadaan vaksin palsu. Namun, BBPOM DIJ tetap melakukan pengecekan rutin secara keseluruhan. “Pengecekan rutin terus dilakukan, tapi tidak khusus untuk vaksin palsu,” jelas Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni.

Ayu menjelaskan, hasil terakhir pengecekan sampling di 19 sarana pelayanan kesehatan swasta, tidak ditemukan vaksin palsu. Semua vaksin berasal dari Puskesmas setempat dan dibeli dari distributor resmi. “Semua vaksin asli,” tuturnya.

Mengutip dari hasil laporan di Jakarta, produksi maupun distribusi vaksin palsu dilakukan secara ilegal. Untuk itu, pihaknya mengimbau supaya melakukan pembelian vaksin dari distributor resmi. “Kalau untuk distributor resmi sudah dijamin produknya,” tuturnya. (pra/ila/ong)