ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
OMBAK BESAR: Warga yang mengikuti Peh Cun di Pantai Parangtritis, kemarin (9/6). Meski ombak tinggi, warga tetap mengikuti tradisi dengan khidmat.
PUNCAK perayaan Peh Cun ta-hun ini terasa sepi. Puncak ritual tahunan yang terpusat di kawasan Pantai Parangtritis, Bantul yang diadakan kemarin (8/6) ber samaan dengan dua momen.

Yakni, bulan Ramadan dan gelombang tinggi yang menerjang Pantai Selatan DIJ selama sepekan terakhir.Wakil Ketua Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) Hans Purwanto mengakui, rangkaian acara ritual Peh Cun sengaja didesain sederhana. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya
Itu sebagai bentuk toleransi kepada umat muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa. “Acara juga banyak yang kami fokuskan saat malam hari dan sebelum puasa,” jelas Hans di sela puncak acara Peh Cun.

Ada dua rangkaian dalam puncak Peh Cun kemarin. Yakni, tradisi mendirikan telur dan doa bersama.

Menurut Hans, tradisi mendirikan telur dihelat setiap tanggal 5 bulan 5 tahun Imlek. Pada hari itu telur bisa didirikan di atas media seperti kayu dan lantai. Bisa berdiri karena ada garis sejajar antara telur, bumi, rembulan, dan matahari.

“Bisa berdiri mulai pukul 11.00 hingga 13.00,” urainya.

Sayangnya, warga yang ikut tradisi unik ini tidak sebanyak tahun lalu. Tidak lebih dari 50 orang. Itu diperparah dengan kondisi alam yang tidak ber-sahabat
. Ya, tradisi mendirikan telur sempat diwarnai gelombang tinggi yang menyapu daratan Pantai Parangtritis.

Sontak, sejumlah warga yang asyik mendirikan telur langsung berlari menuju utara untuk menghindari terjangan air laut. Bahkan, salah satu meja yang dijadikan media pendirian telur ini ada yang roboh karena diterjang air. Terlepas dari itu, salah satu rangkaian puncak acara berupa doa bersama berjalan khidmat.

“Melalui doa ini kami mengun-dang para dewa dan seluruh yang ada di sini untuk menghadiri Peh Cun,” papar Pendeta Majelis Budha Indonesia Suryo Purnomo usai memimpin doa bersama Peh Cun.Salah seorang peserta Peh Cun Dewi Yanti mengatakan, dia rutin menghadiri pelaksanaan puncak acara Peh Cun. Setiap acara itu pula, warga asal Klaten ini menga-jak seluruh anggota keluarganya.

“Untuk menjaga tradisi leluhur,” ucapnya.Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul Bambang Legowo menegaskan, Pemkab Bantul tak mematok target jumlah wisatawan selama Peh Cun. Mengingat, momennya bersamaan dengan bulan Rama-dan. (zam/ila/ong)