HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
UNTUK LINGKUNGAN: Warga melakukan bersih-bersih di Kali Ngares untuk menjaga kelestarian air sungai.

Mengintip Aktivitas Komunitas Brayat Pesing Desa Ngargosari

Warga Desa Ngargosari, Samigaluh, Kulonprogo memiliki langkah nyata dalam melakukan gerakan cinta lingkungan. Salah satunya mengajak warga tidak membuang sampah sembarangan hingga bersih-bersih sungai. Aktor yang menginisiasi adalah Komunitas Brayat Pesing. Siapa mereka dan seperti apa kirprahnya?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
AIR Sungai yang mengalir di wilayah Desa Ngargosari merupakan nadi kehidupan bagi warga, khususnya mereka yang tinggal di dekatnya. Sungai jernih merupakan salah satu sumber mata air di wilayah perbukitan Menoreh Kulonprogo itu.

Keberadaan sungai menjadi harapan warga ketika kemarau panjang tiba. Karena hanya dari sungai saja sumber air warga. Mereka yang terpantik semangatnya untuk menjaga kebersihan sungai itu adalah Komunitas Brayat Pesing. Anggotanya pemuda desa setempat, mereka rutin mengajak warga peduli kebersihan dengan mengadakan gerakan bersih kali (sungai) dan lingkungan.

Sekitar empat bulan terakhir, para pemuda mengajak penduduk lokal turun langsung ke sungai untuk kerja bakti. Mulai dari membersihkan sampah sampai menanam pohon gayam serta beringin.

Salah satu aksi bersih-bersih sungai yang melibatkan semua warga tersebut dilaksanakan dalam bentuk Memetri Kali Ngares di Dusun Trayu, Ngargosari, akhir pekan kemarin. Bertepatan dengan persiapan memasuki Ramadan, warga diajak bersih-bersih kali.

Tidak ubahnya tradisi padusan yang bertujuan membersihkan diri menyambut bulan suci, warga secara riil juga melakukan kegiatan membersihkan lingkungan dan alam hidup mereka.

Ketua Komunitas Brayat Pesing Ibnu Khoironi mengatakan, kegiatan kali ini dilatarbelangi keprihatinan, karena banyaknya sampah di sepanjang aliran sungai di wilayah tersebut.

“Sungai sekarang ini fungsinya bisa dikatakan sudah bergeser. Sungai sekarang lebih identik dengan tempat membuang sampah. Memprihatinkan,” katanya.

Ibdu menjelaskan, ide gerakan bersih-bersih kali awalnya muncul dari segelintir pemuda di desa setempat. Komunitas Brayat Pesing yang berisi pemuda-pemuda yang terbiasa kongkow di persimpangan-persimpangan wilayah tersebut akhirnya terpanggil.

“Kami akhirnya ikut semangat merealisasikan ide itu. Kami tak keberatan dibilang mbeling atau suka tongkrongan di perempatan jalan. Kami akan membuktikan sebagai pemuda yang produktif dalam berpikir,” jelasnya.

Menurutnya, semangat gerakan bersih kali ini juga berasal dari penggal-penggal diskusi jalanan simpang tiga Ngaliyan, Ngargosari. Awalnya fokus pada persoalan kesehatan dan pendidikan. Kemudian berinisiatif menggerakkan seluruh warga untuk membersihkan kali dari sampah.

“Kebersihan aliran sungai sudah perlu ditangani. Bagi masyarakat perbukitan, mata air adalah sumber hidup,” ujarnya.

Dampaknya bisa dilihat saat kemarau, warga yang biasa mengandalkan aliran sungai ini kebingungan. Kerusakan tebing hingga longsor karena banyaknya sampah sudah terjadi beberapa kali. “Kami berharap warga semakin paham dan tahu apa dampak buang sampah sembarangan di sungai, karena itu bisa mematikan sumber hidup mereka (air),” lanjutnya.

Memeriahkan acara, sekaligus mengundang generasi muda untuk lebih bersemangat. Bersih-bersih Kali Ngares, juga disisipi doa lintas agama, penanaman pohon, dan menebar benih ikan.

“Puncaknya adalah gogoh (lomba tangkap) iwak (ikan) di sungai dengan peserta anak-anak. Seluruh warga kemudian ramai-ramai makan sego megono di jalan pinggiran sungai,” ungkap Ibnu.

Gerakan warga turun ke kali bersih-bersih sejauh ini sudah 16 kali. Rencananya, komunitas bersama warga akan membersihkan setidaknya sepuluh sungai lagi yang melewati wilayah tersebut. Di antaranya Kali Trayu, Gondang, Krasak, Gayam, Gamping, Joho, Gedhe, Ngasem, dan Nongko. (ila/ong)