DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TAK MERASA SENDIRI: Heronimus Bagyo Harsono dan istri, Brigita Maryati, ditemui di kediamannya di Jamprit, Panjangrejo, Pundong, Bantul.

Sempat Terpisah dari Keluarga, Hanya Bawa Uang Rp 10 Ribu

Tak bisa tergambarkan lagi apa yang berkecamuk dalam hati Heronimus Bagyo Harsono tepat sepuluh tahun yang lalu. Terpisah dari istri dan anak, dan mendapati rumah turun temurun milik keluarganya tak lagi berbentuk. Bersyukur masih diberi keselamatan, perlahan bangkit dengan banyaknya tangan-tangan pertolongan.

DEWI SARMUDYAHSARI, Bantul
TIDAK SENDIRI. Rasa itulah yang kembali hadir dalam benak Heronimus Bagyo Harsono mengingat peristiwa gempa 2006, tepat sepuluh tahun lalu. Meski terpisah dari istri dan anak, namun keduanya selamat. Rumah miliknya luluh lantak, hanya tersisa pakaian yang menempel di tubuh serta selembar uang Rp 10 ribu di genggaman.

Namun, kala itu warga sesama korban gempa dan relawan bahu membahu membantu korban gempa yang tertimbun reruntuhan. Disamping itu, pascagempa, teman-teman Bagyo datang memberikan pertolongan. Disitulah Bagyo bersyukur, karena tak merasa sendiri menanggung beban.

Bagyo menuturkan, kala itu rumahnya yang berada di RT 2/RW 2, Jamprit, Panjangrejo, Pundong, Bantul jadi salah satu daerah terparah saat gempa tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter itu terjadi. Saat kejadian, pria berusia 47 tahun ini sedang berada di Gesing, Gunungkidul untuk mengepul ikan. Ikan kiriman itu langsung ditinggal dan secepat-cepatnya pulang ke rumah. Begitu sampai, istri dan anaknya tidak ada di tempat. Rumah peninggalan keluarganya juga sudah tidak berbentuk.

“Semua rumah rata dengan tanah, jalan beraspal pun menganga. Sebanyak 23 jiwa saat itu harus meregang nyawa dan dengan sederhana dimakamkan bersama,” kenangnya.

Sang istri, Brigita Maryati, menimpali, saat kejadian dia berada di rumah bersama anak dan dua keponakannya. Ketika itu, anak dan satu keponakannya sempat terjebak reruntuhan rumah. “Puji Tuhan, anak-anak masih selamat dan tidak luka, hanya tubuhnya penuh debu bangunan runtuh,” ujarnya.

Belum tenang mendapati guncangan hebat, isu tsunami pun beredar. Semua orang cari selamat, tanpa pikir panjang, dia membawa anak dan keponakannya lari hingga Gabusan. “Bapak sampai ngomong dosa apa kok bisa begini, ya saya bilang, yang dosa bukan hanya kamu, karena yang mengalami juga bukan hanya kami sendiri,” ujar sang istri.

Maryati, sapaannya, mengatakan, ketika menyelamatkan diri, dia hanya membawa uang Rp 10 ribu saja. Tak sempat membawa barang-barang lain. Kondisi terasa pilu tatkala ada kerabat yang terluka dan dirawat di rumah sakit, mereka butuh biaya untuk obat dan membeli makan.

“Ya bagimana, uang tinggal sepuluh ribu, tapi budhe (kerabatnya) lebih butuh. Akhirnya kami kasih untuk beli bubur kacang hijau dan dimakan bersama,” ujarnya.

Maryati dan Bagyo lantas mencari tempat sementara untuk berteduh. Bagyo tak lagi bisa bekerja mengepul ikan. “Yang terpikir saat itu, bagaimana dan dimana kami akan tinggal,” ungkapnya.

Bertahap, bantuan demi bantuan pun datang mengalir. Selama kurang lebih dua bulan, keluarganya pun tinggal di “gedek” di bawah pohon mangga. Bantuan datang dari saudara dan teman-teman pengepul ikan di Gombong. “Saya bikin rumah-rumahan sementara. Sampai waktu itu ada bantuan Rp 15 juta dari pemerintah, saya pakai untuk bangun rumah kembali,” ujar Bagyo.

Saat rumah mulai dibangun kembali, barulah dia kembali pada pekerjaannya. Berkat bantuan teman-teman dan nelayan, aktivitas pengepulan ikan pun jalan kembali. Sedikit demi sedikit. Berkat keteguhannya, kini Bagyo fokus mengumpulkan ikan-ikan laut untuk pesanan ekspor. Seperti bawal putih, kakap, layur, dan lobster. Diakuinya, memang tidak bisa selalu mendapatkan hasil laut yang sama. Namun, agar sama-sama jalan, apa yang dipanen nelayan pun tetap dia ambil.

“Misal sekarang ikan lagi tidak musim, yang banyak keong laut ya itu saja yang dijual. Kalau tidak laku buat ekspor ya lokal saja. Ambil di Pantura dan dijual di Depok,” ujarnya yang melakukan pengepakan sendiri di rumah.

Dibantu lima orang pekerja, jika ikan laut datang, langsung dikemas menggunakan es batu agar selalu fresh. Ikan yang terkumpul juga tidak bisa langsung dikirim, setidaknya menunggu hingga ikan mencapai muatan satu truk baru bisa diekspor. (ila/ong)