JOGJA – Pameran Reksa Dana yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIJ menjadi ajang nostalgia Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Mengingat sebelum menjadi Wakil Wali Kota Jogja pada 2006 silam, dan akhirnya menjadi Walikota, HS sempat 16 tahun berkiprah di dunia pasar modal. Tidak heran, ketika dimintai sambutan HS bisa dengan gamblang menjelaskan tentang investasi, terutama di pasar modal.

Menurut HS, ada persamaan kondisi pasar modal dulu dan sekarang. Masih banyak masyarakat yang belum paham tentang investasi di pasar modal.

“Keprihatinanya itu masih kekurangtahuan masyarakat soal investasi pasar modal, kalau bank semua tahu,” kata HS saat pembukaan pameran.

HS mencontohkan di masyarakat masih ada yang tergiur dengan iming-iming bunga tujuh persen per bulan. Menurut dia, dengan bunga sebesar itu, maka akan muncul pertanyaa, kemana dana diinvestasikan?. Sehingga perlu diberikan pemahaman ke masyarakat, tentang investasi yang mudah dan terjangkau.

“Bukan murah, yang perlu dipahamkan ke masyarakat itu ono rego ono rupo,” tuturnya.

HS juga mengisahkan pengalamannya dulu memperkenalkan produk-produk pasar modal, seperti saham hingga reksa dana. Selama karirnya di pasar modal, ayah dua putri tersebut pernah menjadi broker hingga sekretaris manager di beberapa perusahaan sekuritas. Diakuinya untuk meyakinkan calon nasabah bukan pekerjaan mudah.

“Untuk menjelaskan itu butuh perjuangan setengah mati,” ungkapnya.

Suami dari Tri Kirana Muslidatun tersebut mengingatkan, berdasarkan pengalamanya, investasi berasal dari kelonggaran keuangan yang dimiliki. Bukan dari hutang. Hal itu pula, , yang perlu dipahamkan ke masyarakat.

“Jangan hutang untuk berinvestasi, bisa ngelu meneh,” ujarnya.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK M Noor Rachman menambahkan, saat ini pasar modal masih menjadi pelengkap perbankan. Dari data OJK, terdapat 172 juta rekening di bank. Sedang data single investor identification (SID) pasar modal terdapat sekitar 346 ribu.

Sementara itu, menurut Kepala Bagian Pengawasan OJK DIJ Probo Sukesi literasi masyarakat terkait pasar modal masih rendah. Dari data OJK masih sekitar 3,79 persen, dengan utilitas 0,11 persen. (pra/dem)