KEPALA Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Baskara Aji meminta agar isu kebocoran soal Ujian Nasional (unas) 2016 disikapi secara bijak. Sebab, penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap siapa siswa yang mengabadikan naskah soal Paper Based Test (PBT) atau Computer Based Test (CBT).

Di sisi lain, adanya isu kebocoran soal ini justru merugikan para siswa. Sebab, beberapa siswa masih harus melangsungkan ujian hingga Selasa (12/4) mendatang. Imbasnya, secara tidak langsung akan mengganggu konsentrasi siswa dalam mengerjakan unas.

“Melihat dari hasil foto yang beredar, saya optimistis bahwa itu bukan di Jogjakarta. Tapi saya tetap menunggu penyelidikan lebih lanjut. Terpenting saat ini menjaga suasana kondusif dalam melaksanakan ujian,” tegasnya ditemui Radar Jogja di Kantor Disdikpora DIJ, Jumat pagi (8/4).

Aji mengaku sedikit kecewa dengan informasi yang tersebar di masyarakat. Karena, lanjutnya, untuk menyikapi isu ini perlu konfirmasi dari berbagai pihak. Menurutnya, justru isu kebocoran unas jangan dilontarkan terlebih dahulu.

Terlebih, saat ini belum tahu pasti siapa pemotret soal-soal yang diujikan. Hasil ini ditemukan di grup Line yang beranggotakan siswa-siswa SMA/SMK seluruh Indonesia. Kemajemukan anggota dalam grup sosial media ini tentu perlu dikaji agar bisa mengarah pada tokoh utama penyebar soal.

“Maka dari itu kami akan melakukan klarifikasi ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Kantor Cabang DIJ. Ini merupakan tanggung jawab semua pihak untuk mencari tahu kebenarannya. Rencana Senin (11/4) akan melakukan klarifikasi,” katanya.

Ketika disinggung apakah dari ORI DIJ sudah menghubungi Disdikpora DIJ. Aji tidak mengiyakan. Hingga ditemui di kantornya Jumat pagi (8/4) belum ada satupun pihak ORI yang menghubunginya. Aji mengaku justru mendapatkan info isu kebocoran dari rekan media massa.

“Saya malah tahunya dari teman-teman (media massa), mau melakukan klarifikasi adanya isu kebocoran,” jelasnya.

Dia kembali menegaskan bahwa perbedaan jadwal ujian antara unas PBT dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tak bisa dijadikan sebagai indikasi kebocoran. Khusus untuk UNBK setiap siswa memiliki token yang berbeda. Sehingga soal di dalam satu ruang uji berbeda antara satu siswa dengan lainnya.

Kesamaan materi soal antara unas PBT dan UNBK menurutnya adalah suatu kewajaran. Ini karena materi pelajaran yang diterima sama. Sehingga ketika siswa unas PBT memberikan kisi-kisi ke siswa UNBK tidak bisa dijadikan acuan adanya kebocoran.

“Itu justru seperti diskusi, ini tidak salah dan silakan saja. Bocor itu kalau soal yang akan dikerjakan besok harinya tapi sekarang sudah beredar,” katanya.

Aji menilai langkah salah satu siswa SMA Kota Jogja untuk melapor sudah sangat tepat. Ini justru semakin menguatkan indikasi bahwa indeks integritas Jogjakarta masih tinggi. Perlu suatu keberanian untuk melaporkan penyimpangan dalam pelaksanaan Unas 2016.

Dalam grup Line itu sendiri terdiri dari 195 siswa seluruh Indonesia. Beberapa siswa di Jogjakarta ikut tergabung dalam grup ini. Siswa yang melaporkan pun tak ikut aktif dalam perbincangan yang membahas soal unas PBT dan UNBK tersebut.

Aji memastikan akan memberi sanksi tegas jika penyebar foto berasal dari DIJ. Baik dari pihak sekolah, pengawas, siswa hingga bimbingan belajar. Menurutnya, pihak-pihak yang sengaja memotret soal unas dan menyebarkannya jelas-jelas menyalahi aturan.

“Seharusnya khusus untuk soal PBT langsung masuk map setelah digunakan ujian, bukan malah difoto dan disebarkan ke media sosial. Untuk siswa pelapor mungkin layak mendapatkan penghargaan karena melaporkan masalah ini,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala ORI DIJ Budhi Masturi menerima laporan dari salah satu siswa SMA Kota Jogja, Kamis (7/4). Menurut Budhi, siswa tersebut melihat ada obrolan soal UNBK untuk mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. Ini baru diketahui ketika siswa merampungkan sesi ujiannya. Dalam kronologi percakapan di grup Line tersebut, ada percakapan tanya jawab soal ujian mapel Bahasa Indonesia yang disertai dengan lampiran foto soal UNBK di layar komputer. (dwi/ila)