Direktur PT BPR Chandra Mukti Artha

Buah Disiplin, Kerja Keras, dan Kesabaran

Terlahir sebagai warga keturunan Tionghoa tidak pernah disesali Ascar Setiyono. Kondisi itu justru menempanya menjadi pribadi pekerja keras, disiplin, dan sabar. Nah, buah ketekunannya itu membawanya ke pucuk pimpinan PT BPR Chandra Mukti Artha, salah satu BPR terkemuka di DIJ.

“Nama saya harusnya mungkin Oscar. Tapi entah kenapa di akte tertulis Ascar. Dan itu berlanjut ke ijazah dan data diri sampai sekarang. Saya tidak tahu artinya Ascar, tapi kalau Oscar mungkin terinspirasi ajang penghargaan tertinggi insan film dunia,” katanya kepada Radar Jogja.

Ascar adalah bungsu dari 10 bersaudara. Lahir di lingkungan campuran Tionghoa dan pribumi. Kakeknya dari Tiongkok, sementara neneknya dari Salaman, Magelang. “Mama asli Temanggung, Tionghoa juga. Kakak saya putih tapi saya mungkin karena bontot ndak kebagian putihnya. Kecil biasa di-bully, di desa teman-teman suka panggil saya Hitachi, hahaha..,” ujarnya.

Lahir 16 Desember 1973, Ascar tumbuh di Salaman. SD dan SMP dia habiskan di Salaman. Kemudian di SMA Kristen 1 Magelang dan Universitas Diponegoro Semarang jurusan Ilmu Komunikasi 1992.

Jurusan itu adalah pilihan ketiganya. Pilihan pertamanya adalah Teknik Sipil UGM, kedua Teknik Geodesi Unpad. Komunikasi sebenarnya bukan jurusan favoritnya. Karena di SMA lebih tertarik Fisika. Tapi, seiring banyaknya ilmu yang dipelajari dan aktif di media kampus, lama kelamaan dia menemukan sisi positifnya.

“Komunikasi sangat penting sebagai cara untuk menyampaikan pesan dan mencari teman. Berhubungan dengan banyak orang. Kelak itu akan sangat saya gunakan di pekerjaan. Saya lebih ke public relation (PR) bukan ke publisistik. Asumsi saya, perusahaan pasti membutuhkan orang untuk menyampaikan pesan perusahaan, atau menjawab komplain sebagai wakil perusahan,” jelasnya.

Ascar lulus pada 1997. Ia lalu membuat 15 lamaran pekerjaan. Dari kelima belas itu, delapan di antaranya dikembalikan. Ia lalu dipanggil oleh sebuah bank swasta di Jakarta sebagai manajemen training. Setelah pelatihan customer relation selama 3 bulan, dia sempat ditempatkan di Jakarta, sebelum akhirnya dipindah. “Sebagai bank baru saya ditarik ke Bandung 3 bulan, lalu ke Solo. Pindah ke Bank Pos Nusantara, kantornya di kantor pos di daerah Bekonang, Solo. Melayani nasabah yang menabung kredit pensiunan,” kenangnya.

Proses belajarnya di dunia perbankan semakin terasah saat dia ditarik ke bagian operasional. Membawahi satuan kerja audit internal Jateng-DIJ. Tugasnya pemeriksaan area Jogja, Solo, dan Semarang. “Dari awalnya hanya komunikasi saya mulai mengerti perbankan, masuk ke semua bidang,” ungkapnya.

Pada tahun 2000 ada sembilan bank yang di-take over, termasuk bank tempatnya bekerja, dan disatukan menjadi Bank Danamon. Sempat galau memilih antara resign atau tetap bergabung, dia lalu mantap memilih bergabung. Ia dipindahkan ke Jepara menjadi staf akuntansi.

“Dari operasional SDM, manajemen ke akuntansi, nyleneh lagi. Saya memasuki area di mana saat itu sistem operasional belum begitu modern. Saya belajar proses perbankan untuk lebih baik sampai kemudian ditarik koordinator akuntansi di Kudus,” paparnya.

Semakin mengetahui dunia perbankan, pada 2004 ia ditawari menjadi direktur sebuah BPR. Ia lalu melepas jabatanya yang lama dan mengambil kesempatan itu.

Ia banyak melakukan perubahan di sisi budaya kerja. Menumbuhkan semangat dan disiplin karyawan. Yang menonjol, setiap membuka hari, karyawan berkumpul untuk berdoa bersama, dilanjutkan permainan dan yel-yel penyemangat. Selain membuat karyawan disiplin berangkat pagi, juga sebagai waktu untuk selalu koordinasi. “Sore hari sebelum pulang juga seperti itu. Beberapa karyawan gantian maju ke forum untuk memimpin,” ungkapnya.

Hasilnya, dari nilai aset Rp 8 miliar di 2004, melonjak saat ini menjadi Rp 165 miliar. Ia masih menargetkan, lima tahun mendatang nilainya mencapai Rp 500 miliar. “Masih ada dua tahun membuat lompatan, membuka jaringan kantor. Multiplikasi dan duplikasi kinerja dengan buka cabang, kita harap target terpenuhi dan aset lebih baik. Dari hanya 12 orang sekarang 150 orang karyawan,” terangnya.

Atas semua capaian dan hal yang diraihnya saat ini, dia selalu bersyukur kepada Tuhan. Menurutnya, apa yang dikerjakannya seperti sudah ditata dan diskenario, dia hanya melakoni semaksimal mungkin.

“Dari SD saya sudah jadi ketua kelas, memimpin upacara hal yang biasa. Jadi seperti ditata menjadi leader. SMP dan SMA juga sama, sampai menjadi lulusan terbaik Fisika SMA. Kuliah juga lulus dengan IPK di atas 3, tidak susah mencari pekerjaan dan mendapat posisi yang bagus,” katanya.

Menurutnya, Tuhan sudah berikan jalan begitu baik. Tinggal menjaga hubungan dan komunikasi dengan Tuhan. Setiap hari berdoa dan meminta untuk selalu diberikan jalan terbaik. (riz/din)

ascar-1

Berikan Contoh Disiplin dan Integritas

Sebagai pimpinan perusahaan, Asca Setiyono, sangat memperhatikan sumber daya manusia (SDM) karyawannya. Sebelum bekerja, mereka diberikan pembekalan dan soft skill untuk menunjang pekerjaan. Seperti bagaimana bersikap terhadap customer, berpikir positif dalam menyelesaikan persoalan dan motivasi. “Bekerja ada dasarnya. Tidak hanya disuruh bekerja saja, tapi mengajari bekerja lebih baik lagi. Membawa visi yang jelas agar perusahaan sehat, besar dan kuat,” katanya.

Ascar membiasakan komunikasi yang bisa merangkul semua. Semua karyawan dapat menyampaikan apapun terkait pekerjaan. Ia mengajarkan agar semuanya berlaku demokratis. “Kalau sudah seperti itu, share aturan dapat mudah diterima dan meningkatkan kinerja,” katanya.

Ia juga mencontohkan kepada karyawannya untuk selalu berlaku disiplin, terutama disiplin waktu. Tak heran jika meskipun pemimpin perusahaan, dia selalu datang ke kantor lebih awal. “Saat sekolah jam 6 sudah di sekolah. Waktu kerja nglaju Semarang-Jepara, saya hanya dua kali terlambat. Yaitu saat ada pasar kobong dan banjir,” kenangnya.

Saat bekerjapun, meski kantor jam 08.00 baru buka, jam 07.00 dia sudah di kantor. Ini sebagai bentuk menghargai waktu dan membangun disiplin. “Diawali dari tanggungjawab kecil ke hal yang besar,” jelasnya.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah integritas. Karena ini membawa nama baik perusahaan. Apalagi perbankan adalah jasa kepercayaan. (riz/din)

ascar-keluarga

Bergandeng Tangan Majukan BPR

Di usianya yang masih muda, Ascar dipercaya menjadi Ketua Perbarindo DIJ periode 2015-2019. Sebagai ketua baru, dia berusaha meningkatkan kualitas BPR-BPR di DIJ.

Saat ini, direktur dan komisaris harus bersertifikasi. Di bawah Yayasan Perbarindo Yogyakarta (Yaperta) pimpinan BPR harus meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. “Mengikuti modul dan harus disampaikan yang sudah bersertifikat mengajar. Beruntung saya punya bekal mengajar. Sejak 2004 sudah ada, tapi sempat vakum. Dan sejak 2014 aktif lagi,” terangnya.

Dia berharap Perbarindo memberikan manfaat dan nilai lebih anggota, serta memaksimalkan sebagai payung organisasi. Dengan begitu, perannya dapat dirasakan. “Membuka jalan sebagai garda depan dan hubungan industrial. Ketika ada aturan OJK yang baru. Juga menjembatani ketika hearing peraturan yang akan dikeluarkan. Mengawal ketentuan OJK, tetapi tetap berpihak pada industri BPR,” jelasnya.

Ia juga selalu mengusahakan menjalin komunikasi anggota Perbarindo dan dicintai anggota. Selain itu juga berkomunikasi dengan berbagai pihak, seperti lembaga pendidikan, pengambil kebijakan. “Komunikasi dengan stakeholder dan banyak pemikir, agar juga memikirkan kemajuan BPR,” katanya.

Saat ini Perbarindo DIJ memiliki 53 anggota. Ia bercita-cita semua anggota selalu bergandeng tangan dan bekerjasama. Antara yang besar dan kecil dapat maju bersama. “Karena setiap BPR punya kelebihan, rasio keuangan dan kualitas SDM masing-masing,” jelasnya.

Dia juga menginginkan semuanya berani tampil, dan memaksimalkan media. Ini bertujuan agar semakin dikenal masyarakat. (riz/din)
ascar-fotografi

Hobi Fotografi dan Sosok yang Dekat Keluarga

Di luar kesibukannya di kantor, keluarga adalah yang utama. Karena itu, dia selalu berinteraksi dengan keluarga. Antara lain mengantarkannya ke sekolah dan menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Sesibuk apapun dia selalu sediakan waktu untuk keluarga. Sore sampai malam bersama keluarga. “Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga,” katanya.

Saat bertemu, tanpa diminta anak-anaknya akan selalu cerita. Apa yang dilakukan di sekolah, keluh kesah apapun. Ia juga mendidik anaknya menggunakan kata-kata yang baik. Sebab jika sejak kecil diajarkan dengan kata-kata yang buruk akan tertanam di alam bawah sadarnya. Ia juga tidak pernah memaki dan memarahi anak-anaknya. “Mengubah sesuatu yang positif. Mengurangi kata-kata jangan,” tegasnya.

Dia juga memperhatikan bakat anak-anaknya. Mulai dari memberikan les menari, vokal sampai dengan les piano. “Beberapa kali ikut lomba dan meraih prestasi. Bahkan beberapa kali mengikuti lomba tingkat nasional,” ungkapnya.

Berawal ajakan kawan, Ascar ini saat ini semakin serius menggemari fotografi. Perangkat kamera dengan spesifikasi yang sudah memadai, serta sejumlah tambahan tele membuatnya semakin menikmati hobinya ini. Ia saat ini sedang menggemari jenis foto makro. “Biasanya keliling ke daerah-daerah untuk hunting,” jelasnya.

Dengan fotografi, juga bisa menambah jaringan. Tidak hanya dengan komunitas foto, namun juga beberapa anggota Perbarindo di daerah dan pusat. Karena sejak menyukai fotografi, kamera tidak pernah lepas dari tangannya. (riz/din/ong)