Kepala Disdukcapil Bantul, Fenty Yusdayati
BANTUL – Angka perceraian di Bantul ternyata cukup tinggi. Hingga Desember 2015, perempuan Bantul yang sudah menikah sebanyak 919.440 orang. Dari jumlah tersebut, ada 46.250 orang yang kini berstatus janda. Sebanyak 4.757 orang menyandang status janda karena cerai sedangkan 41.493 orang lainnya menjanda karena suaminya meninggal dunia.

“Kebanyakan yang menggugat cerai sang isteri. Perceraian di Kabupaten Bantul terjadi karena mereka merasa sudah tidak ada kecocokan,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Bantul, Fenty Yusdayati, pekan lalu.

Jumlah janda di Diskdukcapil tersebut berbanding lurus dengan data perceraian yang ada di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Bantul. Berdasarkan data PA Bantul, angka perceraian pasutri di Bumi Projotamansari empat tahun terakhir terus meningkat. Setiap tahun, pasutri yang memutuskan bercerai atau berpisah dengan pasangannya mencapai lebih dari 1.000an. Usia pasutri yang memutuskan bercerai relatif masih muda yaitu dibawah usia 35 tahun.

“Pasutri yang bercerai paling banyak berusia 18-35 tahun. Usia pernikahannya baru berjalan satu hingga lima tahun,” kata Humas PA Bantul, Yuniati Faizah SH kepada Radar Jogja pekan lalu.

Alumni UIN Sunan Kalijaga ini membeberkan, pada tahun 2013, suami yang menjatuhkan talak atau cerai kepada isteri melalui PA Bantul sebanyak 425 kasus. Sedangkan isteri yang memutuskan menggugat cerai terhadap suaminya mencapai sebanyak 915 orang. Pada 2014, suami yang melontarkan kalimat talak kepada isteri turun lima poin yaitu 420 kasus. Sedangkaan isteri yang menggugat cerai suaminya meningkat 61 poin yaitu mencapai 976 kasus. Berikutnya, pada 2015 suami menceraikan isteri berkurang. Hanya, gugatan cerai yang diajukan isteri justru meningkat dratis.

Suami yang memutuskan mengakhiri hubungan dengan isteri turun menjadi 379 kasus sedangkan isteri yang mengajukan gugatan cerai meningkat menjadi 984 kasus. Pada Januari hingga 25 Februari 2016, suami yang menjatuhkan talak kepada isteri mencapai 92 orang. Sedangkan isteri yang menggugat cerai mencapai 136 orang.

Seorang pengacara, Widodo SH mengaku dalam sebulan menangani kasus perceraian sedikitnya 10 kasus. Kebanyakan kliennya adalah perempuan atau para isteri yang berprofesi sebagai buruh pabrik, ibu rumah tangga, dan karyawan swasta. Alasan kliennya mengajukan gugatan cerai kepada suami beragam seperti suami tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan materi, suami tidak lagi bekerja/pengangguran, suami selingkuh, suami nikah siri, dan sering dipukul suami/kekerasan dalam rumah tanggah (KDRT).

“Paling banyak klien saya terpaksa menggugat cerai karena suaminya ketahuan selingkuh. Suaminya sudah tidak bekerja tapi suka main perempuan dan mabuk-mabukan,” tandas Widodo. (mar/dem/ong)