BANTUL – Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengklaim, program swasembada pangan yang dicita-citakan pemerintah pusat mulai menampakkan hasil.

Salah satu indikatornya, peningkatan produksi tanaman padi. Memasuki musim panen pertama 2016, produksi gabah meningkat enam persen.

“Angka ini luar biasa tinggi. Tertinggi selama sepuluh tahun terakhir. Apalagi ini ada bencana El Nino,”ujar Amran disela kunjungan kerja di Bulak Polaman, Argorejo, Sedayu kemarin (1/3).

Amran mengaku pernah mengecek capaian produksi padi di berapa kabupaten di Jawa Tengah. Seperti Demak, Sragen, dan Purworejo. Hasilnya, tidak ada kelangkaan. “Padahal, pada Januari-Februari biasanya kerap disebut musim paceklik,” lanjutnya. Paceklik berdampak harga gabah maupun beras mahal. Namun, hal itu tak terjadi saat ini. Dari pantauannya, harga gabah di pasaran berkisar Rp 2.500-Rp2.800 per kilogram.

“Momen puncak panen Maret-April. Target produksi beras 4 juta hingga 5 juta ton,” ujarnya.

Jika target tercapai, Amran memastikan tak akan ada kebijakan impor beras.

Selain beras, Amran melihat peningkatan produksi tanaman pangan lainnya. Terutama jagung dan bawang. Bahkan, ekspor jagung melonjak hingga seribu persen, sedangkan bawang naik 100 persen.

“Impor (produk pertanian) sekarang turun 74 persen,” sebutnya.

Menurut Arman, meningkatnya produksi tanaman pangan tak lepas dari tekad pemerintah menggulirkan sejumlah program. Diantaranya, mekanisasi alat-alat pertanian, perbaikan dan peningkatan saluran irigasi, pemberian benih unggul, hingga terjaminnya distribusi pupuk.

Bupati Bantul Suharsono berjanji akan turut menyukseskan program swasembada pangan. Salah satunya dengan meminimalisasi alih fungsi lahan hijau. Pemkab tidak akan mengizinkan pembangunan komplek perumahan di lahan hijau maupun area pertanian subur. Kendati demikian, Suharsono berharap pemerintah pusat aktif menyalurkan berbagai bantuan sarana pertanian.

“Mudah-mudahan Bantul menjadi percontohan baik. Jangan sampai orang mau makan ndadak impor,” tuturnya.(zam/yog/ong)