Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
JOGJA – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman besar. Ini terlihat dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ yang menempatkan Kota Jogja berada di urutan ketiga terbanyak warganya yang terkena penyakit ini.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan DIJ Daryanto Chadorie mengatakan, hingga kemarin jumlah kasus demam berdarah tertinggi berada di Bantul dengan 188 kasus.

Disusul kemudian Gunungkidul dengan 134 kasus. Baru kemudian Kota Jogja 132 kasus, Sleman 106 kasus dan terakhir Kulonprogo 34 kasus. Meski begitu, Bantul terbilang cukup bagus karena tidak ada satu pun korban meninggal.

Korban meninggal tertinggi ada di Kota Jogja yakni tiga orang, kemudian Sleman dan Kulonprogo masing-masing satu orang meninggal. “Bantul dan Gunungkidul tidak ada korban yang meninggal dunia,” terang Daryanto kemarin (26/2).

Daryanto menjelaskan, untuk kasus demam berdarah memang terus mengalami peningkatan di DIJ. Pada 2014 lalu tercatat ada 1.955 kasus dengan korban meninggal 12 orang. Angka itu meningkat pada 2015 menjadi 3.420 kasus dengan korban meninggal 35 orang.

“Tahun 2016 per Januari sudah 521 kasus, dan Februari sudah 60 kasus lebih. Kami berharap kasusnya menurun tahun ini. Tapi itu pun perlu dukungan masyarakat dengan meningkatkan kepedulian dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M plus,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga tidak tiggal diam. Pemerintah melakukan berbagai upaya melalui Distric Surveilance Officer (DSO). DSO melakukan pemantauan intensif di masing-masing daerah dan melakukan laporan cepat saat menemukan kasus.

Di samping itu, pemerintah melalui Dinas Kesehatan juga menyiapkan logistik untuk menegakkan diagnostik berupa Rapid Diagnostic Test (RDT). Ia mengaku tidak hafal jumlah persis yang disiapkan, namun menjamin stok RDT cukup untuk lima kabupaten-kota di DIJ.

Upaya lain yang dilakukan, lanjut Daryanto, adalah melalui gerakan satu rumah satu jumantik. Dengan begitu, jentik yang ada terus terpantau dan tidak sampai berkembang biak menjadi nyamuk.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Jogja Yudiria Amelia mengatakan, wilayah dengan kasus demam berdarah terbanyak di Kota Jogja berada di Kelurahan Sorosutan, Klitren, Muja-Muju dan Kricak.

Jika dibanding 2014, maka terjadi pergeseran wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi. Pada 2015, kasus tertinggi berada di Kelurahan Wirobrajan, Wirogunan, Sorosutan dan Mantrijeron. (eri/laz/ong)