DWI AGUS/RadarJogja/Dokumentasi

 
Sukses film SITI di sejumlah festival film nasional maupun internasional tak bisa dilepaskan dari sosok Eddie Cahyono. Sukses Eddie juga menjadi bukti sahih, bahwa Jogjakarta memiliki potensi perfilman yang luar biasa. Mulai dari lokasi syuting, pemain hingga tim produksi di belakangnya.

Melihat sejarah biografi film Eddie pasti mengira sebagai sosok baru dalam dunia film. Namun kenyataannya pria kelahiran Jogjakarta 2 April 1977 ini telah menggeluti dunia film sejak lama. Secara akademis Eddie mengawalinya ketika menjadi mahasiswa Jurusan Televisi FSMR ISI Jogjakarta 1999.

“Sudah dari kecil memang suka sekali menonton film. Bahkan dulu tidak pernah absen menonton film di bioskop Widya sekitar Alun-Alun Utara. Nontonnya bareng tukang becak dan warga lainnya. Maklum bioskop kelas ekonomi,” kenang Eddie.

Kesukaannya itu berlanjut ketika dia masuk bangku SMA, Eddie memutuskan mendalami seni peran. Pada waktu itu dia aktif dalam kelompok teater sekolah. Setelah lulus jiwa seni filmnya pun semakin menggelora.

Bahkan Tahun 1997 dia memutuskan bermain sebagai figuran. Film pertama ini berjudul Balada Dangdut yang diputar Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Ternyata setelah sekian lama, Eddie justru tidak menemukan passion sebagai actor.

Lepas dari dunia akting, Eddie justru memilih kerja di balik layar. Tahun 1998 merupakan tonggak bersejarahnya mendalami dunia sinema. Tahun itu merupakan pertama kalinya Eddie memproduksi film pendek.

“Pada waktu itu ada festival film dan salah satu saingan saya Hanung Bramantyo. Waktu itu saya hanya modal nekat untuk ikut festival. Memang tidak menang, tapi saya belajar dari ajang ini. Saya melihat film karya Hanung dan memang bagus, dan saya terinspirasi,” kenangnya.

Dari sini dia berkeinginan melanjutkan jenjang pendidikan. Awalnya Eddie muda ingin masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Terhalang biaya, Eddie mengurungkan niat ini. Hingga akhirnya pada tahun 1999 dirinya masuk ISI Jogjakarta dan bertemu Ifa Isfansyah.

Pertemuan dengan Ifa terus melahirkan ide-ide kreatif. Bahkan dalam film SITI, Ifa bertindak sebagai produser. Bersama Ifa pula Eddie ingin membuat film berjudul Four Colours. Sayangnya sejak dilontarkan ide ini tak pernah terwujud.

“Saya ingat waktu itu tahun 2000 pas mau buat film ini. Tapi karena gagal akhirnya kita jadikan komunitas film saja. Justru dari komunitas ini bisa bikin film pendek di tahun 2001. Berjudul Di Antara Masa Lalu dan Masa Sekarang, dan langsung menang dalam ajang festival film di Jakarta. Prestasi ini menjadi energi buat kami untuk terus berkarya,” jelasnya.

Kreativitas Eddie terus bertambah tidak hanya dalam dunia film pendek. Beberapa kali dirinya dipercaya memproduksi acara televisi. Pada waktu itu dia dipercaya membuat sinetron di Lativi (kini TV One) hingga TV 7 (sekarang Trans 7).

Film SITI pun lahir dari ambisi tim Four Colours untuk menghasilkan film panjang. Konsep yang diusung adalah film dengan biaya sendiri tanpa embel-embel sponsor. Biaya untuk film panjang ini terbilang minimalis karena hanya hanya Rp 100 juta.

Proses pembuatan film SITI diakui Eddie berjalan dengan sangat mulus. Mulai dari masa penulisan cerita, hingga ke naskah dan hadir dalam wujud film. Berbeda dengan proyek sebelum-sebelumnya yang selalu berhenti di penulisan naskah. “Proses syutingnya pun hanya enam hari, dengan pembuatan naskah dua bulan dan post produksi tiga bulan. Sehingga total waktu produksi lima bulanan lebih,” jelasnya.

Perjalanan itu berlanjut saat dia mendaftarkan film ini dalam ragam festival. Kabar gembira ketika film karyanya ini diterima di International Film Festival Rotterdam 2014. Awalnya di ajang ini akan menjadi International World Premiere. Mendadak berubah ketika panitia Singapore International film Festival menyatakan film ini lolos festival.

“Akhirnya ngobrol sama Ifa dan memutuskan untuk diputar di Singapura sebagai World International Premiere. Yang Roterdam jadi European Premiere. Sedangkan untuk World Premiere sudah dilakukan waktu JAFF Netpac 2014 lalu,” ungkapnya.

Ikut dalam ajang internasional tentunya ada beberapa poin yang diubah. Dari segi bahasa tetap menggunakan bahasa Jawa, tapi tetap dibekali dengan sub title bahasa Inggris. Sedangkan untuk konsumsi bioskop komersil Indonesia ada beberapa penyesuaian kecil. “Bahasa Jawa itu realita percakapan keseharian yang kita temui di daerah Pantai Parangtritis. Untuk keperluan film komersil ada beberapa adegan yang disensor. Untuk menyesuaikan dari film festival ke film komersial. Tapi tidak merubah esensi dan durasi dari film ini,” jelasnya. (dwi/din/ong)