BAGI dr Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) terjun ke dunia politik, hingga akhirnya menjadi bupati, karena keinginan untuk bisa melayani atau pengabdi kepada masyarakat.

“Semacam ada panggilan saja ketika ada hingar bingar pemilihan bupati di Kulonprogo waktu itu. Kebetulan saya orang asli Kulonprogo, akhirnya saya maju,” terang Hasto.

Sebelum menyatakan maju menjadi Bupati Kulonprogo, Hasto mengaku sudah membayangkan dan berhitung sekaligus meyakinkan keluarganya. Saat itu yang terlintas, menjadi kepala daerah adalah tantangan yang berbeda.

Apalagi, Hasto saat itu baru saja bersekolah menjadi konsultan, setelah sebelumnya mengambil spesialis. Ya, saat itu Hasto mengaku benar-benar sedang menikmati posisinya sebagai dokter kandungan.

“Hingga datang pinangan itu. Saya bilang sama anak dan istri, kalau saya jadi bupati jangan seperti kemarin. Kalau kemarin kan dokter, punya penghasilan kalau jadi bupati punya penghasilan tapi ya tidak seperti dokter,” ucap Hasto yang juga rutin menulis rubrik Teh Celup di koran Jawa Pos Radar Jogja ini.

Hasto menuturkan, sebelum memutuskan pulang ke Kulonprogo dan menjadi bupati, dia sempat merasakan menjadi dokter umum yang laris di Bontang. Di sana Hasto memiliki pasien cukup banyak dan hidup seperti umumnya dokter yang mapan dan berkecukupan.

Sebelumnya lagi, selama lima tahun lebih Hasto sempat melalui perjalanan karirnya menjadi dokter inpres yang bertugas di pedalaman. Dia sempat menjadi dokter terapung. Wilayah tugasnya sampai ke hulu sungai Mahakam dengan naik perahu apung.

“Setelah itu baru pindah di Bontang, buka praktik di sana dan laris, hanya sekitar setahun kehidupan yang enak itu saya nikmati,” kenangnya.

Hingga kemudian, Hasto memutuskan untuk sekolah lagi menjadi dokter spesialis selama lima tahun. Saat itu pertimbangannya, ilmu lebih penting dari pada harta. “Akhirnya berhenti, dan kembali prihatin,” tuturnya.

Hasto juga sempat sekolah menjadi konsultan selama dua tahun, dan mengajar menjadi dosen. Kemudian, maju dalam bursa Pilkada Kulonprogo dan terpilih menjadi bupati. “Posisi bupati saya maknai begitu saja. Saya pamit sama anak-istri setelah hidup relatif kecukupan, akan balik lagi seperti zaman sekolah dulu, prihatin dengan penghasilan yang secukupnya,” ucapnya. (tom/ila/ong)