SLEMAN- Pemkab Sleman membuka peluang transmigrasi bagi petani yang serius ingin meningkatkan taraf hidup. Syaratnya, niat, semangat, dan tak pilih-pilih lokasi.

Pemerintah menjamin lokasi tujuan para transmigran berupa lahan subur yang memiliki fasilitas umum layaknya permukiman penduduk, seperti air, listrik, sekolahan (SD), puskesmas, serta akses memadai untuk menjangkau kawasan perkotaan.

Kepala Bidang Tenaga Kerja, Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sutiasih menyatakan pemkab akan menolak tawaran atau membatalkan kerja sama dengan pemerintah daerah tujuan transmigran jika kondisi lahan tidak layak atau belum siap. Untuk memastikan hal itu,dinas melakukan survei lokasi paling tidak sebanyak empat kali. “Itu pernah kami lakukan dengan segala konsekuensinya,” ujarnya kemarin (11/1).

Asih, begitu sapaan akrabnya, menegaskan tak ingin para transmigran mengalami kesulitan di lokasi transmigrasi. Apalagi kalau sampai sengsara.

Di sisi lain, ada kawasan yang dipastikn subur, tapi justru minim peminat. Yakni Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Sejak dibuka pendaftaran pada 2015 untuk lima kepala keluarga (KK),hanya 1 KK yang berminat.

Akibatnya, lowongan yang tersedia tak selalu terisi. Sementara, antrean calon transmigran makin panjang lantaran para pendaftar menginginkan daerah tertentu. Sumatera Selatan paling favorit. Padahal, jika kuota Simeulue terpenuhi, transmigran bisa segera diberangkatkan tanpa harus antre.

Kepala Disnakertrans Untoro Budiharjo menggaransi peluang usaha tani di Simeulue setelah mengecek kabupaten kepulauan yang lebih dekat dengan Medan daripada Aceh. Meski luas pulau hanya 120×10 kilometer persegi, Simeulue memiliki bandara untuk memudahkan akses transportasi. Masyarakat dan pemerintah setempat siap menerima dan memfasilitasi para transmigran.

“Tak perlu takut dengan GAM. Simeulue dipastikan aman dari tsunami dan GAM,” ujarnya.

Selain Simeulue, pada 2016, dinas akan menempatkan transmigran di Kabupaten Sijunjung,Sumatera Barat (7 KK); Polewali Mandar, Sulawesi Barat (5 KK); Gorontalo (5 KK);, dan Boalemo, Gorontalo (8 KK).

Di lokasi transmigrasi, para transmigran akan mendapatkan rumah (disesuaikan dengan kondisi geografis setempat), lahan 2 hektare, dan jaminan hidup selama setahun sebelum berproduksi.

Lahan diberikan bertahap. Tahap awal berupa lahan pekarangan seluas 0,25 hektare dan ahan usaha 0,75 hektare. Sisanya menyusul setelah setahun.

Pemkab Sleman membantu alat pertanian, pertukangan, dan bibit. Sedangkan biaya pemberangkatan dan uang saku Rp 5 juta per KK difasilitasi Pemda DIJ.

Syarat transmigran harus memiliki keterampilan bertani, warga Sleman,usia 18-50 tahun, dan sudah menikah. Diutamakan warga miskin yang tak memiliki lahan pertanian (buruh tani).(yog/din/ong)