JOGJA – Para rayi dalem (adik raja) akhirnya bertemu Rabu malam (6/1) lalu. Bertempat di kediaman Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwonoto, pertemuan itu untuk membahas sikap para rayi dalem setelah dibacakannya Sabda Jejering Raja oleh Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) Ka 10 pada 31 Desember 2015 lalu.

Pertemuan ini diikuti semua rayi dalem, termasuk yang selama ini tinggal di Jakarta. Mereka menilai Sabda Jejering Raja, substansinya tetap tidak sesuai paugeran Keraton Jogja. KGPH Hadiwinoto yang memimpin pertemuan mengatakan, kakaknya sebagai raja kurang legitimasi. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya sederek dalem yang sungkem saat Ngabekten pada perayaan Idul Fitri lalu.

“Apalagi pakaian yang diagem tambah melorot, hanya mengenakan surjan,” ujar Gusti Hadi, sapaannya, ketika ditemui seusai menghadiri jumeneng dalem KGPAA PA X di Puro Pakualaman, kemarin (7/1).

Menurut Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Parasraya Budaya Keraton Jogja ini, Sabda Jejering Raja yang beredar di media selama ini salah. Meski mengaku belum menerima teks resminya, tapi dari salinan yang diterimanya berbeda. “Beda dengan yang selama ini beredar,” sebutnya.

Meski begitu, Gusti Hadi yang sempat hadir saat Sabda Raja 30 April 2015 itu mengungkapkan, sikap dari para pangeran atau adik-adik Sultan masih berpikiran positif terhadap Sabda Jejering Raja Mataram. Isi dan maksud dari sabda tersebut memang perlu berkali-kali dibaca secara jeli agar bisa menafsirkan.

“Jangan sampai seperti yang sudah beredar, saya pribadi mensinyalir ada kalimat yang ditafsirkan terlalu over (berlebihan),” ungkapnya.

Adik kandung HB Ka 10 tersebut juga berpendapat, apa yang dibacakan Ngarso Dalem di
Sitihinggil, bukan dawuh (perintah) tapi pengertian. “Itu bukan dawuh, judulnya mangertenana,” ungkapnya.

Gusti Hadi menambahkan, isi dan maksud dari sabda tersebut memang perlu berkali-kali dibaca secara jeli agar bisa menafsirkan. “Untung itu bukan tembang,” lanjutnya.

Terkait beberapa isi Sabda Jejering Raja, Gusti Hadi mengatakan, untuk mencopot kalenggahan di Keraton Jogja sesuai paugeran juga ada tahapannya. Dia mencontohkan seperti pegawai, terdapat surat peringatan terlebih dahulu.

“Semuanya itu punya tahapan. Ujug-ujug ra ngerti upo bengkonge (tidak ada duduk perkaranya) terus pocot. Kuwi semena-mena,” katanya.

Dia juga mempertanyakan abdi dalem, sentana dalem, dan rayi dalem yang tidak berbakti harus sumingkir saka Mataram atau pergi dari Mataram. “Lha Bumi Mataram saiki dadi papat, Keraton Solo, Keraton Jogja, Mangkunegaran, Pura Pakualaman,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan langkah selanjutnya dari para rayi dalem, termasuk kemungkinan untuk bertemu langsung dengan kakaknya tersebut, Gusti Hadi mengatakan hal itu tergantung Ngarsa Dalem. “Ya itu tergantung beliau, yang pasti dimas-dimas tetep positive thinking,” ungkapnya.

Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo mengungkapkan, para rayi dalem sudah menggelar rapat guna membahas Sabda Jejering Raja Mataram. Hanya, hasil rapat rayi dalem sampai saat ini belum ada sikap resminya. Tapi menghadapi ancaman pencopotan kalenggahan, para rayi dalem akan melindungi sentana dalem dan abdi dalem.

Dipocot jabatan dan kalenggahan itu ada aturannya. Seperti kami (rayi-rayi dalem) yang memberi nama dan jabatan ya bapak dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” tegasnya.

Sementara itu, GBPH Yudhaningrat juga menegaskan Sabda Jejering Raja cacat hukum karena tidak sesuai dengan paugeran. “‎Intinya sabda itu tidak sah, cacat demi hukum. Karena sejak sabda raja itu beliau sudah berganti nama dari sebelumnya Hamengku Buwono menjadi Hamenku Bawono Ka 10,” ujarnya.

Sebelumnya, menantu HB Ka 10, KPH Purbodiningrat menjanjikan pekan ini akan ada penjelasan resmi dari Keraton Jogja terkait Sabda Jejering Raja. Penjelasan akan diberikan oleh kakak iparnya, GKR Condrokirono. (pra/ila/ong)