GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DUA ABAD: Kyai Manik Koemolo buatan 1812 akan digunakan dalam prosesi Jumenengan Dalem KGPAA PA X dikeluarkan saat gladi bersih, kemarin (3/1).

Kyai Manik Koemolo Tertua, Kyai Jaladara Termuda

Enam kereta kuda telah disiapkan untuk Jumenengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X. Mulai dari kereta Manik Koemolo berusia lebih dari dua abad, hingga kereta Kyai Jaladara yang baru selesai dibuat akhir tahun lalu.

DWI AGUS, Jogja
SEBUAH kereta kuda berwarna hitam glossy terlihat terparkir di sisi barat Bangsal Sewatama Kadipaten Pakualaman. Dilihat dari wujudnya, kereta kuda ini masih baru dan belum digunakan. Sedangkan di sisi belakangnya, terparkir empat kereta kuda yang berusia tidak muda lagi.Kereta kuda berwarna hitam ini adalah Kyai Jaladara. Sebuah kereta kuda milik Kadipaten Pakualaman yang terbilang ma-sih sangat baru. Sebab, kereta ini baru saja diselesaikan akhir tahun 2015.

Kereta kuda ini melengkapi koleksi kereta milik Kadi-paten Pakualaman.Bendara Pangeran Haryo (BPH) Hario Danardono mengatakan, kereta kuda ini baru jadi sekitar Desember 2015 lalu. Besok saat jumenengan dalem akan turut dikirab. Namun, tidak digunakan untuk KGPAA PA X saat jumenengan. “Tapi kereta ini diguna-kan untuk acara budaya,” kata adik kandung KGPAA PA X, Minggu (3/1)
Kereta ini terlihat menonjol dari kereta lainnya. Sebab, kereta ini memiliki ukuran yang lebih besar dari kereta kuda lainnya. Sehingga untuk menarik kereta ini dibutuhkan enam ekor kuda.Wujudnya mengadaptasi dari kereta milik Kadipaten Paku-alaman yang lainnya. Mas Ireng, sapaan akrab dari BPH Danar-dono, mengungkapkan, kereta ini mengadopsi model kereta kuda Kerajaan Inggris. “Tapi kereta ini beda dengan kereta lainnya, karena dipro-duksi di dalam negeri. Tepatnya dibuat di bengkel Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) Pem-da DIJ,” kata Mas Ireng.

Keberadaaan kereta kuda ini bukan berarti mempensiunkan kereta kuda sebelumnya. Justru untuk Kirab Ageng KGPAA PA X menggunakan kereta kuda Kyai Manik Koemolo. Kereta ini sendiri telah berusia lebih dari dua abad.Kereta ini merupakan hadiah dari Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raflles ke-pada KGPAA PA I di tahun 1812. Kereta berwarna kuning cerah ini merupakan model Landaulet in Riemen. Diproduksi pabrik F. Muers London Inggris antara tahun 1800 hingga 1810. “Keberadaan Kyai Jaladara bukan untuk menggantikan ke-reta kuda sebelumnya. Justru untuk Kirab Ageng besok meng-gunakan Kyai Manik Koemolo,” tandas Mas Ireng.

Menjelang jumenengan dalem, kereta-kereta sepuh memang mengalami perawatan. Menurut Kawedanan Budaya lan Pariwi-sata Kadipaten Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indrokusumo beberapa kom-ponen sudah terlihat lapuk.Itu karena kereta-kereta kuda berbahan dasar kayu dan besi. Sehingga perlu ada penggantian di beberapa komponen pendu-kungnya. Seperti kayu yang mulai lapuk dan keropos perlu diganti baru. “Dilihat dari umurnya, kereta-kereta kuda ini memang tak lagi muda. Namun untuk fungsi tetap normal. Hanya saja perlu perhatian lebih,” kata Kanjeng Indro, sapaannya.

Dalam kirab, Kadipaten Pa-kualaman mengeluarkan lima kereta. Selain Kyai Manik Koe-molo dan Kyai Jaladara ada-pula Nyai Roro Kumenyar. Ke-reta ini diproduksi oleh H and A Holmes Derby Lichfield di London Inggris tahun 1900.Kereta dengan model Berline berwarna hijau tua dan hitam ini hadiah dari Sri Susuhunan Paku Buwana X kepada anak mantunya KGPAA VII.

Lalu ada kereta Kyai Brojonolo hadiah dari pemerintah Belanda ke-pada KGPAA PA VII.Selanjutnya, kereta Manik Brojo dengan model Coupe Driekwart produksi tahun 1870 hingga 1890. Sayangnya, untuk kereta Manik Brojo tidak terlihat saat gladi kirab ageng KGPAA PA X. Sebab, kereta ini masih dalam masa perawatan. “Untuk prosesi kirab ageng besok ditambah satu kereta ampilan dalem koleksi Keraton Jogja. Kereta Kyai Rejo Pawoko yang dibuat tahun 1901 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII,” kata Kanjeng Indro.

Untuk menarik seluruh kereta kuda ini diperlukan sebanyak 30 kuda. Setiap kereta kuda ada yang ditarik empat hingga enam kuda. Kuda-kuda ini dipinjami oleh kesatuan Kavaleri TNI Ang-katan Darat. Adapula kuda dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) DIJ. (ila/ong)