DOKUMEN PRIBADI
SEMPAT DILARANG: Abdul Halim Muslih bersama istri dan anak. Sang istri, Emi Masruroh sempat melarang Halim untuk maju dalam bursa Pilkada Bantul, meski akhirnya dia memberikan dukungan penuh.

Dikira Pasangan Calon Boneka

Mencalonkan diri sebagai calon wakil kepala daerah bukanlah perkara mudah. Ada banyak rintangan datang silih berganti, bahkan ujian itu datang dari internal keluarga, teman, dan kolega. Itulah yang dialami Abdul Halim Muslih, Wakil BupatiBantul Terpilih periode2016-2021.
KEPUTUSAN Halim mencalonkan diri sebagai wakil bupati pada Pilkada Bantul 9 Desember lalu, bisa dibilang cukup berliku. Maklum, kali pertama orang yang menentang pencalonannya adalah sang istri, Emi Masruroh. Alasannya, pesaing suaminya pada Pilkada Bantul adalah sosok yang sudah dikenal masyarakat luas. Serta dikenal dekat dengan masyarakat bawah yang ada di Bumi Projo Tamansari.

Ditambah lagi, rivalnya merupakan peta-hana yang sudah memiliki jaringan kuat di level pemerintahan tingkat kabupaten hingga desa. Bahkan sudah pernah berkuasa selama 15 tahun, dan memiliki dana sangat besar. Sehingga, mustahil perolehan suara pasangan Suharsono-Halim bisa mengungguli rivalnya tersebut.

Namun, keputusan untuk mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Bantul sudah terlanjur diambil. Apalagi, keputusan itu diambil Halim melalui berbagai pertim-bangan matang. Salah satunya, setelah tidak ada satu pun tokoh internal PKB dan ormas NU yang berani mencalonkan diri mendam-pingi Suharsono melalui tiket PKB.

Bahkan, dia pernah menawari mantan Ketua DPRD Bantul yang juga politikus PDI Perjuangan, Joko Purnomo, agar bersedia maju sebagai wakil bupati mendampingi Suharsono. Namun, Joko Purnomo menolak dengan alasan akan mengikuti instruksi DPP PDI Perjuangan yang mengusung pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir).Di sisi lain, bila Suharsono tidak ada yang mendampingi maka hajatan Pilkada Bantul bakal tertunda.

Imbasnya, dana yang sudah dikucurkan KPU sia-sia dan roda pemerin-tahan di Kabupaten Bantul akan terganggu, termasuk program yang bersentuhan lang-sung dengan masyarakat. “Awalnya, istri menolak. Setelah saya jelaskan, alhamdulillah dapat memahami. Ini semua demi masyarakat Bantul lima tahun mendatang,” kata Halim kepada Radar Jogja di rumahnya di Dusun Singosaren, Wukirsari, Imogiri beberapa waktu lalu.

Setelah istri setuju, perlahan Halim mulai menyambangi tokoh PKB dan NU yang ada di wilayah Jogjakarta untuk meminta restu dan dukungan. Kemudian, menemui Suharsono untuk berkomunikasi sekaligus membangun komitmen atas pencalonannya tersebut. Selanjutnya, petinggi Partai Gerindra, PKB, dan PKS di Jogjakarta bertemu dan se-pakat mengusung pasangan Suharsono-Halim. Itu ditandai dengan turunnya surat rekomendasi dari partai pengusung tersebut.Selain tiga partai tersebut, sejumlah politisi dan simpatisan Partai Golkar, PAN, PPP bahkan sebagian kader PDI Perjuangan ikut mendukung Suharsono-Halim. Tak keting-galan masyarakat Bantul ikut membuat gerakan relawan dengan biaya sendiri. “Banyak yang mengira kami (Suharsono-Halim) adalah pasangan boneka (unthul). Tapi, kami berusaha menyakinkan pada ma-syarakat bahwa kami adalah calon alterna-tif. Kami ingin ada perubahan di Bantul, tidak itu-itu saja,” beber mantan anggota DPRD DIJ ini.

Ujian tidak berhenti di situ. Dia terus di-buat bingung saat pencalonannya. Terutama dalam urusan dana. Maklum, kala itu Halim hanya memiliki uang cash sebesar Rp 200 juta. Padahal, biaya untuk mengenalkan diri kepada masyarakat Bantul tidak murah. Mulai dari biaya pembuatan stiker, kon-sumsi, dan kampanye terbuka selama lebih dari dua minggu. “Saya sampai utang uang ke saudara. Alhamdulillah, semua teratasi karena ba-nyak relawan yang mengadakan pertemu-an dengan biaya sendiri, mereka patungan. Jadi, partisipasi masyarakat terhadap ke-menangan kami sangat besar,” jelasnya. (mar/ila/ong)

data-abdul-halim-muslih

Tetap Sama, Selalu Jalani Hidup Sederhana

ABDUL Halim Muslih menyadari ada banyak masyarakat Bantul yang menggantungkan hara-pan dari pasangan Suharsono-Halim. Harapan itu berupa adanya perubahan berbagai program pemerintahan di Projo Tamansari. Mewujudkan harapan tersebut, Halim mengaku akan selalu menjaga komitmen yang telah dia sampaikan kepada masyarakat. Antara lain, akan selalu hidup sederhana seba-gaimana dia lakoni selama ini. Juga tidak akan menjaga jarak dengan rakyat serta mewujud-kan program-program yang pro rakyat.

Misal-nya saja, kesehatan gratis, pendidikan gratis, peningkatan daya saing UMKM, pemberantasan KKN, dan perbaikan infrastruktur. “Insya Allah, kehidupan saya dan keluarga akan tetap seperti ini,” katanya.Misalnya, ketika di rumah dia akan tetap mem-biasakan diri pakai sarung dan berbaur dengan warga. “Ya supaya tahu keluhan mereka. Tetap se-perti dulu, tak akan banyak berubah,” kata Halim.Halim juga mengaku tak akan mengubah akti-vitas keluarganya. Dia tetap memberikan kele-luasaan pada sang istri, Emi Masruroh, untuk tetap menjalani aktivitasnya sebagai guru di Kota Jogja. “Istri akan tetap ngajar, anak-anak tetap bisa bermain dengan teman-temannya,” jelasnya. (mar/ila/ong)