DWI AGUS/RADAR JOGJA
KOCAK: Ketoprak Conthong Jogjakarta kembali hadir di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Marwoto dkk tampil selama dua hari, Selasa (29/12) dan Rabu (30/12) kemarin.

Lampor, Angkat Fenomena Penambangan Pasir

Jenaka namun penuh dengan kritik dan pesan moral. Itulah yang terlihat dari pementasan Ketoprak Conthong Jogjakarta yang kembali hadir di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) selama dua hari, Selasa (29/12) dan Rabu (30/12). Seperti apa pertunjukan malam kemarin?
DWI AGUS, Jogja
CONCERT Hall TBY terlihat ramai. Malam itu menjadi penantian bagi warga untuk menonton aksi Ketoprak Conthong Jogjakarta. Tidak hanya warga Jogja, kendaraan yang parkir di halaman TBY justru didominasi oleh pelat luar kota dibandingkan warga Jogja sendiri.Pintu dibuka, sontak penonton menyerbu kursi merah Concert Hall. Dari kelas lesehan hingga VVIP ludes dipadati warga yang hadir. Mengangkat lakon Lampor, penampilan kelompok ini memang sangat dinanti.
Pasalnya, gelaran ini menjadi ajang nostalgia masyarakat dari luar kota yang rindu tontonan ketoprak.Seperti Priyo Ambodo, 59, dari Jakarta yang sudah lama sekali tak menyaksikan kesenian ini. Dia bahkan mengajak ke-luarganya untuk melihat aksi Marwoto dkk. “Saya sudah lama sekali tidak melihat ketoprak sejak pindah ke Jakarta. Jadi mum-pung liburan panjang saya pulang kampung. Ternyata ada jadwal ketoprak, jadi wajib nonton,” katanya
Mendekati pukul 20.00 WIB suara perempuan terdengar lembut mengalun. Meski tidak terlihat wujudnya, namun suara ini mampu memanaskan suasana. Sebab, beberapa instruksi dan anjuran dalam menonton di-bacakan dengan cara yang nyeleneh.Suasana bertambah hangat ketika tata cahaya berwarna hijau menghiasi panggung utama. Sebagai pembuka di-tampilkan percakapan antara dua sapi yang diperankan oleh Rio Pujangkoro dan Nano Asmorodono. Dikemas dalam bahasa Jawa dan Indonesia, kedunya mampu mengawali dengan gelak tawa.Aksi para penggawa Ketoprak Conthong kali ini memang tidak biasa. Sebab, dalam setiap pe-mentasan sebelumnya cenderung membawa cerita babad Mataram.
Namun dalam kesempatan ini memilih lakon Lampor yang bercerita tentang penambangan pasir.Sutradara Pementasan Susilo Nugroho mengatakan, ide cerita ini berawal dari obrolan bersama Romo Sindhunata. Dia me-nyarankan untuk membawakan konsep cerita dan lakon yang tidak biasa. “Akhirnya, tercetuslah Lampor yang bercerita tentang penambangan pasir di lereng Gunung Merapi,” ungkap pria yang juga akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso ini ditemui di belakang panggung.
Ketertarikan Susilo meng angkat lakon ini memang beralasan. Pertama, sebagai wujud ke-pedulian terhadap alam. Kedua, menyoroti penambangan yang tidak memiliki dampak positif yang besar. Ini dilihat dari angka kerugian yang lebih besar dari-pada pemasukan.Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah rusaknya akses jalan desa. Kerusakan ini terjadi di aliran sungai yang menjadi kawasan penambangan. Kare-na truk-truk hilir mudik untuk menambang dan mendistri-busikannya ke wilayah perkotaan.”Ini terbukti memang merusak lingkungan baik alam maupun tatanan masyarakat,” tandasnya.Susilo menuturkan, dalam pementasan ada dialog kecil nek banyu didol ning botol dadi larang kenapa wedi ora didol ning botol. “Ini sentilan buat kita semua terutama pihak yang terlibat langsung dalam pertambangan,” katanya.
Sama dengan pertunjukan sebelum-sebelumnya, Conthong selalu menyajikan kritik pedas. Meski begitu, dalam adegan tidak nuding dan saling me-nyalahkan. Cenderung me ngajak semua elemen untuk peduli terhadap isu ini.Pementasan ini mengisahkan, hadirnya sosok Denmas Bandana yang diperankan Bagong Sutrisno. Dengan cara halus, dia membujuk penambang tradisional Kamuna yang diperankan oleh Sarjono, untuk meninggalkan cara kuno dan menggunakan backhoe.Dalam adegan digambarkan cara ini diakui lebih efektif. Karena mampu menambang pasir dengan volume besar. Berbeda dengan cara tradi sional yang hanya menghasilkan satu gerobag sapi.
Imbasnya, daerah aliran sungai rusak. Hingga akhirnya meng-ganggu kerajaan hewan yang dipimpin oleh Prabu Brama Denta. Sosok raja Macan yang diperankan Bayu Saptama inipun memerintahkan seluruh penghuni hutan untuk memeriksa ke-rusakan ini.”Terjadi benturan dengan kehidupan alam di hutan. Hewan-hewan turun dan murka menge-tahui masalah ini. Hingga akhirnya terjadi konflik yang melibatkan manusia dan peng-huni hutan,” kata Susilo.
Masalah bertambah ketika rombongan Lampor melewati aliran sungai. Sungai yang di-anggap jalur dari Pantai Selatan menuju Gunung Merapi telah rusak. Hingga akhirnya utusan Kanjeng Ratu Kidul ini ter perosok ke dalam lubang yang digali dengan backhoe.Kemarahan sang Lampor menjadi-jadi karena baik hutan maupun lingkungan masyara-kat merasakan dampaknya. Terjadi banjir bandang yang disebabkan oleh kemarahan Lampor. Ini sebagai wujud keadaan alam yang sudah tidak seimbang.
Bertepatan dengan itu, sedang terjadi pemilihan bupati di Lereng Merapi. Calonnya adalah Tumenggung Layung Prahara yang menjadi pelindung Demas Bandana. Warga mau memilih asalkan penambangan pasir dihentikan.Untuk mendapatkan simpati dari warga keinginan ini di-kabulkan. Sayangnya, setelah terpilih, penambangan pasir kembali dilakukan. Pemimpin yang terpilih tak dapat berbuat banyak karena Denmas Bandana memiliki kuasa diatasnya.”Hingga ada dialog yang menyindir manusia karena ke-tamakannya. Kewane kangslupan manungsa, ini kan terbalik. Tetap kembali ke diri masing-masing,” pungkasnya. (ila/ong)