JOGJA – Penghageng Tepas Dwara Pura Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Jatiningrat mengajak warga DIJ untuk tidak diam saja. Itu ketika ada sekelompok orang yang ingin mengubah tatanan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Laskar Mangkubuni (LRM) yang mendeklarasikan dukungan ke GKR Mangkubumi sebagai calon Gubernur DIJ dan KBPH Prabu Suryodilogo sebagai Wakil Gubernur DIJ.”Wah itu cuma mau memecah belah saja,” ujar pria yang biasa disapa Romo Tirun tersebut saat ditemui di kompleks Kepatihan, kemarin (30/12)
Diungkapkan, paugeran sudah jelas, kalau Sultan itu laki-laki. “Jangan ngayawara (terlalu berangan-angan) seperti itu,” lanjutnya. Romo Tirun menyayangkan upaya-upaya memecah belah tersebut, saat ini juga sudah melibatkan masyarakat luas. Menurut dia, harusnya ma-syarakat DIJ jangan diam saja dengan upaya-upaya memecah belah tersebut dan menganggap hal itu merupakan urusan internal Keraton Jogja. “Rakyat harus bergerak, usul konkret. Kita harus berpegang pada aturan, termasuk me-negakan aturan dalam Undang-Undang Keistimewaan (UUK),” lanjutnya.
Romo Tirun menambahkan, pada kenyataanya, Raja Keraton Jogja saat ini masih tetap meng-gunakan gelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Ha-mengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat. “Kenyataannya, Pak Sultan di berbagai kesempatan tetap meng-gunakan Buwono kan,” ujarnya setengah bertanya.
Diakuinya, saat ini masih ada kelompok yang tidak legawa dan memaksakan kehendaknya demi kepentingan perempuan bisa menjadi raja. Romo Tirun mengingatkan, tentang pengor-banan yang sudah dilakukan masyarakat DIJ demi menyandang status istimewa dan lahirnya UUK. Imam Masjid Rotowijayan ter-sebut juga mengatakan, UUK merupakan produk DPR RI yang artinya dibuat secara nasional. Waktu pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIJ, untuk pertamakalinya juga dilantik langsung Presiden RI. “Jangan sampai membuat cela rakyat Jogja, nanti kesannya rakyat Jogja banyak maunya, sudah ada UUK, Danais, masih nuntut yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, ketika dising-gung tentang amanat UUK DIJ dalam pasal 43, yaitu untuk penyempurnaan dan pe nyesuaian peraturan serta mempublikasi-kannya, Romo Tirun mengatakan jika paugeran merupakan sesuatu yang tidak tertulis tapi selalu diikuti. Meski diakuinya, ada juga yang tertulis seperti dalam Serat Tajus Salatin pada masa HB V. “Paugeran itu tidak mesti tertulis tapi selalu diikuti,” tan-dasnya.
Sebelumnya, LRM melakukan pengukuhan pengurus di Kulonprogo yang direncanakan diikuti oleh daerah-daerah lain. Hal ini sebagai kelanjutan dari deklarasi LRM di petilasan Ki Ageng Mangir, Bantul pada 6 September 2015. LRM meru pakan pendukung, pembela, dan pe-ngawal Sabdaraja 30 April 2015 dan Dawuhraja 5 Mei 2015 Sultan Hamengku Bawono Ka10. “Kami siap menjadi benteng raja pe-rempuan Keraton Ngayogya-karta Hadiningrat,” ucap Panglima Laskar Mangkubumi Siswanta. (pra/ila/ong)