TERTAWA LEPAS:Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (dua dari kanan)saat meresmikan auditorium Driyarkara kampus USD tadi malam (30/12).
JOGJA – Pimpinan DPRD DIJ didesak proaktif untuk mengklarifikasi kondisi kesehatan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Itu perlu dilakukan karena ketidakhadiran gubernur dalam sejumlah acara di lingkungan Kepatihan maupun gedung dewan selama tiga hari terakhir, sejak Senin (29/12) telah menimbulkan beragam spekulasi. Bila kondisi ini dibiarkan rawan menimbulkan beragam isu yang tak perlu.”Kalau benar beliau sakit, kami ajak semua elemen warga mendoakan segera sehat sehingga dapat memimpin kembali jalannya pemerintahan DIJ,” ungkap Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD DIJ Arief Budiono, kemarin (30/12)
Budiono mengungkapkan, semula dirinya yakin dengan informasi yang disampaikan Pemprov DIJ terkait pembatalan pelantikan pejabat eselon II, III, IV, dan V karena gubernur sedang tidak enak badan.Ketua Komisi C ini juga percaya dua hari setelah beristirahat sesuai jadwal pada Rabu (30/12), gubernur akan melantik 854 pejabat struktural pemprov sesuai agenda. Namun kenyataannya hingga kemarin agenda pe-lantikan pejabat oleh gubernur kembali batal dilaksanakan. Bahkan saat paripurna DPRD DIJ dengan agenda persetujuan empat raperda lagi-lagi tidak dihadiri HB X. Gubernur di wakili Sekprov DIJ Ichsanuri.
Beberapa jam sebelum pari-purna, Sekprov melayangkan surat kepada ketua DPRD DIJ. Surat bernomor 120/12660 itu berisi permohonan izin gubernur tidak dapat menghadiri rapat paripurna karena pada saat yang bersamaan sedang tidak enak badan.”Sehubungan dengan hal ter-sebut, mohon izin penyampai-an sambutan dan pendapat akhir gubernur DIJ akan disampaikan oleh sekretaris daerah DIJ,” tulis Ichsanuri dalam surat yang ber-tindak atas nama gubernur.
Surat Sekprov ke dewan itu berbeda dengan surat yang di-kirimkan kepada kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan pemprov dua hari sebelumnya, atau ter tanggal 29 Desember 2015 tentang pe-nundaan pelantikan.Dalam surat tersebut, Sekprov menjelaskan, penundaan pelantikan pejabat karena saat yang bersamaan gubernur ada tugas lain yang tidak dapat di-tinggalkan. Karena itu, pe lantikan kemudian dibatalkan.
Surat tersebut juga berbeda dengan keterangan Kabag Humas Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ Iswanto kepada war-tawan yang menyatakan pelan-tikan ditunda karena gubernur sedang tidak enak badan.Terkait itu, Budiono kembali meminta agar pimpinan dewan bertindak proaktif melakukan klarifikasi dengan eksekutif. “Bila memang gubernur sakit, maka harus jelas informasinya. Sakitnya apa. Saat ini informasinya terkesan tertutup,” sesal anggota dewan tiga periode ini.
Pandangan agar dewan segera memanggil Sekprov untuk mem-berikan penjelasan terkait kondisi gubernur juga disuarakan anggota Komisi A DPRD DIJ Rendardi Suprihandoko. Politikus PDIP ini berniat me-ngusulkan ke pimpinan dewan untuk mengundang eksekutif. Terutama terkait dengan ditun-danya pelantikan pejabat hing-ga dua kali. “Saya kira perlu juga diundang guna menjelaskan alasannya,” terangnya.
Rendardi mengaku, mengikuti pemberitaan penundaan pelan-tikan karena gubernur ber-halangan dari media. Di mata ketua DPRD Sleman periode 2004-2009 ini penundaan ter-sebut tidak hanya berdampak pada pemborosan anggaran konsumsi saja atau para pejabat yang akan dilantik yang harus berbusana Jawa. Tapi, juga me-ngundang berbagai opini.Menyikapi kondisi tersebut, diaa meminta agar Sekprov DIJ atas nama gubernur melantik pejabat eselon III, IV dan V. Pejabat yang menduduki ketiga eselon itu adalah mereka yang menduduki jabatan di luar kepala SKPD. Menurut Rendardi, jika pe-lantikan terus mengalami penun-daan akan menimbulkan ketidakjelasan bagi PNS. “Se-benarnya kan (Sekprov) bisa melantik eselon III, IV dan V dulu, ditunda-tunda terus juga kasihan,” ujarnya.
Sejak gubernur absen dari ber-bagai acara penting di lingkungan pemprov dan dewan muncul beragam isu. Bahkan di ling-kungan Kepatihan beredar isu gubernur mengalami stroke ringan hingga serangan jantung. Akibat kondisi tersebut, HB X diisukan harus dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura.Namun semua spekulasi dan isu tersebut langsung dibantah salah satu menantunya, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Purbo-diningrat.Pangeran yang juga anggota Komisi A DPRD DIJ itu mem-bantah kabar tersebut. “Ngarso Dalem (HB X) hanya sayah (capek), tidak perlu dikhawatir-kan,” kata suami GKR Maduretno ini.
Menurut Purbodiningrat, mobilitas mertuanya selama ini cukup tinggi, sehingga ke-mungkinan mengalami ke-capekan. Dia menegaskan, HB X tidak dirawat di RS di Singapura. Gubernur DIJ yang menjabat sejak 3 Oktober 1988 itu juga tidak sedang mengambil cuti. Namun tengah beritirahat di Keraton Kilen yang menjadi kediaman sehari-hari HB X. “Bukan (sakit) hanya istirahat di rumah saja,” ujarnya.
Spekulasi seputar kondisi ke-sehatan gubernur terjawab dengan kehadiran HB X di kampus Universitas Sanata Dharma (USD), tadi malam (30/12). Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu hadir me resmikan auditorium Driyarkara di kampus yang terletak di kawasan Mrican, Caturtunggal Sleman. Selama acara HB X terlihat ceria. Bahkan beberapa kali, gubernur tertawa saat me-nyaksikan pentas dagelan trio Gareng Rakasiwi, Joned, dan Aldo Iwak Kebo.Suami GKR Hemas itu datang mengenakan batik warna merah. Dia duduk diapit Rektor USD Johannes Eka Priyatma, dan Ketua Yayasan Sanata Dharma Albertus Budi Susanto. Dalam kesempatan itu, HB X sempat memberikan sambutan dan apresiasi atas diresmikannya auditorium tersebut. ” Keberadaan auditorium ini mendukung dunia pendidikan dan dunia kesenian di Jogja,” ucapnya.
Kepastian kehadiran raja Keraton Jogja ini baru diketahui panitia pada pukul 17.46. Semula pada siang hari pukul 13.00, pihak USD mendapatkan kon-firmasi dari kantor gubernur di Ke patihan bahwa HB X berha-langan hadir. “Informasi yang kami terima beliau gerah (sakit), dan akan diwakili Assekprov Per ekonomian dan Pembangunan Didik Purwadi. Tapi pada pukul 19.00, Ngarsa Dalem berkenan hadir,” ungkap Sekretaris Rektor USD Lucia Irminastuti.Selain memberikan sambutan, HB X juga menandatangani pra-sasti. Hingga pukul 21.30, gu-bernur masih berada di lokasi menyaksikan rangkaian acara. Termasuk menonton pagelaran Sinten Remen yang dipunggawai seniman Djaduk Feriyanto.
Di sisi lain, sejumlah SKPD pemprov telah menerima surat undangan pelantikan pejabat struktural. Acaranya dilakukan tepat sehari menjelang pergan-tian tahun yakni hari ini Kamis (31/12). Namun agenda pelantikan terbatas hanya eselon IV dan V. Sedangkan eselon II dan III belum ada kepastian. Pejabat yang melantik bukan gubernur, tapi Sekprov.Informasi ini dibenarkan oleh Kabag Humas Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ Iswanto. “Infonya besok (hari ini) yang dilantik untuk eselon IV dan V dulu, oleh Pak Sekprov,” ujar Iswanto di Kepatihan, kemarin.
Karena pejabat yang dilantik hanya IV dan V, lokasi pe lantikan tidak di Bangsal Kepatihan. Tapi di Bangsal Wiyata Praja atau di sisi timur kompleks Kepatihan. Wiyata Praja selama ini men-jadi kompleks kantor Sekprov berikut tiga Assekprov. Iswanto menegaskan, untuk eselon II pelantikan harus di-lakukan oleh gubernur. Tapi, karena gubernur masih tidak enak badan, maka pelantikan pejabat eselon IV dan V dide-legasikan kepada Sekprov. Menurut dia, karena lembaga baru ini efektif per 1 Januari 2016, maka sebelum pergantian tahun sudah harus dilantik. “Untuk kepastiannya masih dirapatkan, tapi kemungkinan dilakukan besok (hari ini) siang,” ungkap-nya. (pra/dwi/kus/ila/ong)