GUNAWAN/RADAR JOGJA
MENGKHAWATIRKAN: Seorang warga menyaksikan bekas aliran air yang menggerus teras perumahan PGOT Doga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, kemarin (29/12)
GUNUNGKIDUL – Proyek peru-mahan untuk pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di Gunung-kidul mangkrak. Rencana awal, lo-kasi relokasi atau yang dikenal dengan program “desaku menanti” difung-sikan pertengahan bulan ini, namun batal lantaran sejumlah persoalan.Sekarang, bangunan dengan jum-lah 40 kamar di Padukuhan Doga, Nglanggeran, Patuk, itu kondisinya memprihatinkan. Selain instalasi listrik maupun air belum terpasang, perumahan yang sempat dikunjungi Menteri Sosial Khofifah Indar Pa-rawansa awal November lalu itu juga rawan longsor.
Tanda-tanda bangunan bakal ditelan bumi terlihat dalam bebe-rapa hari terakhir. Bagian talut tergerus air hujan, sehingga me-nyisakan retakan berdiameter besar dan panjang. Rumah di lereng perbukitan ini berbentuk tiga ba-ris bertingkat. Beberapa lokasi sudah tergerus air. Jarak rumah dengan talut hanya satu meter.”Rumah nomor 25 sampai 32 teran-cam longsor. Sejak musim penghujan kemarin, sudah mulai longsor,” kata warga penggarap lahan di sekitar lo-kasi, Ngadinah, kemarin (29/12).
Rumah yang dibangun Dinas So-sial DIJ itu jika hujan deras kemung-kinan akan ambrol lagi dan merun-tuhkan bangunan rumah di atasnya. Padahal, dari ketiga tingkat hanya paling atas yang sudah dipasang talut permanen. “Kemungkinan kalau hujan lagi ambrol, karena tanahnya memang labil,” ucapnya. Kondisi demikian tentu tidak sesuai dengan rencana awal. Ke-tika Menteri Khofifah datang, di-janjikan perumahan untuk PGOT bisa ditempati pada 18 Desember 2015. Namun, dari pentauan ter-kini lokasi rumah justru memba-hayakan keselamatan penghuni jika sudah ditempati.
Sementara itu pemerintah Desa Nglanggeran belum bisa dikonfir-masi lebih jauh terkait ancaman long-sor perumahan PGOT di wilayahnya. Sekretaris Desa Surimin menyarankan agar konformasi langsung ke pemkab.Namun sebelumnya Pemkab Gunungkidul pernah mengirimkan surat ke Pemprov DIJ agar meng-kaji ulang pembangunan rumah PGOT tersebut. Alasannya, peru-mahan untuk gelandangan itu memiliki kemiringan 40 derajat dan dikhawatirkan rawan longsor. Selain itu, dalam pembangunan seharusnya melakukukan kajian tata ruang secara detail. Pihaknya berharap pemprov segera men-indaklanjuti masalah ini. “Kalau memang itu masuk kate-gori rawan bencana, saya rasa bisa dihentikan proses pembangu-nannya,” kata Pjs Bupati Gunung-kidul Budi Antono. (gun/laz/ong)