SLEMAN- Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) juga berhak menikmati sarana air bersih yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman. Pada 2016 mendatang, badan usaha milik Pemkab Sleman itu menargetkan pemasangan sambungan jaringan bagi 1.500 MBR. Khususnya, warga yang berdomisili di wilayah Sleman barat. “Ini untuk percepatan layanan masyarakat berpenghasilan rendah. Selain memenuhi target nasional PDAM men-jangkau 68 persen penduduk Sleman,” ujar Direktur PDAM Sleman Dwi Nurwata SE MM kemarin (29/12).Demi pemerataan, PDAM menerapkan ke-bijakan berbeda antara MBR dan pelanggan reguler. Biaya dan tarif pemasangan disesuaikan dengan kemampuan calon pelanggan. PDAM memberikan keringanan khusus bagi warga dengan penghasilan bulanan rendah. “Cukup membayar Rp 300 ribu air mengalir,” lanjutnya.
Penawaran tersebut jauh di bawah tarif regular yang mencapai Rp 950 ribu per sambungan. Dengan catatan, di kawasan pemukiman warga telah terpasang jaringan pipa eksisting.Selain itu, ada persyaratan lain yang harus terpenuhi. Hanya warga yang menggunakan jaringan listrik berdaya 900 watt atau lebih rendah berhak memperoleh layanan khusus tersebut. Itu merupakan acuan pemerintah pusat dalam menentukan kriteria warga ber-penghasilan rendah. Karena itu, saat mendaftar jaringan baru, calon pelanggan wajib melampirkan bukti rekening listrik. Itu sebagai bahan pertimbangan peng-kategorian calon pelanggan MBR atau regular. “Kalau ada warga yang daftar tapi tak masuk kri-teria (MBR), dicatat sebagai pelanggan reguler,” jelas Dwi.
Sebelum pipa dipasang, akan dilakukan verifikasi (baseline survey) oleh perusahaan konsultan dari Jakarta, yang ditunjuk oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Ya, program sambungan pipa tersebut memang merupakan proyek regional yang fasilitasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Proyek menjangkau tiga wilayah, yakni, Sleman, Bantul, dan Kota Jogja. Setelah pipa terpasang pun masih ada tahapan yang harus dijalani. Berupa uji petik pengecekan sambungan pipa oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pem-bangunan (BPKP). Untuk memastikan semua sambungan telah sesuai spesifikasi dan manfaat yang ditentukan. “Jika semua lancar, air meng-alir, semua berjalan on the track,” tegas Dwi.
Nah, untuk beban bulanan, PDAM juga telah menghitungnya. Dwi mengatakan, rata-rata pelanggan berpenghasilan rendah memakai air sebanyak 12-15 meter kubik per bulan. Dari jumlah itu, pelanggan hanya dikenai biaya sekitar Rp 40 ribu. Dwi optimistis, besaran biaya tersebut cukup terjangkau oleh MBR.Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi men-dorong PDAM terus mengembangkan jaringan agar lebih banyak menjangkau pelanggan. Bahkan, Gatot berkomitmen siap memberikan support atau bantuan penyertaan modal untuk kepentingan tersebut. “Yang jelas, kami berharap target nasional jangkauan PDAM bisa terpenuhi,” ujarnya. (yog/din/ong)