YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KUMPULKAN KARYA AYAH: Lisa A Riyanto mengumpulkan semua karya milik sang ayah A Riyanto yang kemudian akan dipatenkan.

Buat Buku Trilogi dan Patenkan Semua Karya

Bagi penyuka musik era 1970-an tentu tak asing dengan sosok penyanyi, sekaligus pencipta lagu A Riyanto. Kini, kita semua diajak untuk mengenangnya.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
ALOYSIUS Riyanto nama leng-kapnya. Maestro musik tembang kenangan kelahiran 23 Novem-ber 1943 itu memang telah ber-pulang. Namun, karya-karya ayah penyanyi cantik Lisa A Riyanto masih terkumandang di seantero nusantara. Meski dikenal sebagai pen-cipta seribu lagu, sampai kemarin “baru” 854 judul lagu yang terendus oleh Joko Pra-nyoto, ketua tim peneliti, sekaligus penulis buku trilogi A Riyanto. Dari 854 judul tersebut, selama sepuluh bulan, Joko menemukan 754 judul yang diketahui lirik dan lagunya
Sedangkan 360 lagu telah bisa didengarkan melalui aplikasi internet, semacam Youtube.Sepak terjang keluarga besar A Riyanto untuk mengumpulkan semua karya mengundang decak kagum sejumlah pihak. Hingga terbentuk kelompok penggemar yang menamakan diri “Pencari Karya A Riyanto”, yang sebagian besar anggotanya adalah kalangan akademisi. Ditunjuk sebagai ketua dewan penasihat nasional Prof Edy Suandi Hamid dan Prof Suyanto untuk wilayah DIJ.Joko Pranyoto tak lain adalah besan A Riyanto atau ayah dari Prof Dr Richardus Eko Indrajit (suami Lisa A Riyanto), yang juga seorang akademisi.
Selain membuat buku trilogi keluarga besar A Riyanto bertekad untuk mematenkan semua karya dan produk berlabel nama maestro musik alumnus SMA Kolese De Britto tersebut. Kemarin (29/12), digelar Lom-ba Karya Cipta (Lokacara) 2015 di kampus Amikom Jogjakarta. Ini merupakan bagian dari lima proyek yang sedang dikerjakan keluarga besar A Riyanto. “Buku itu berisi kenangan pribadi, karya, dan perjalanan hidup A Riyanto,” kata Joko.
Dirjen HAKI, Kementerian Hukum dan HAM Ahmad M Ramli sangat apresiatif dengan upaya keluarga besar A Riyanto dalam mendukung program pemerintah untuk HAKI pada lagu-lagu lawas. Ramli yang ha-dir di acara Lokacara sekaligus menyosialisasikan perubahan undang-undang tentang hak cipta yang disahkan pada 16 Oktober 2014.Menurutnya, regulasi baru tak lagi menggunakan pendekatan kriminalisasi, melainkan remu-nerasi. Sebab, melalui musik bisa menunjang ekonomi kreatif atas pendapatan domestik bruto na-sional. Ramli memberi ilustrasi, regulasi lama melarang seseorang menyanyikan lagu karya orang lain tanpa seizin penciptanya. Pelaku bisa dituntut pidana.
Kini, lagu-lagu karya anak bangsa bisa dipakai di rumah karaoke, di-upload di media sosial dan sejenisnya. Asalkan, pemilik aplikasi atau tempat usaha karaoke membayar royalti ke lembaga manajemen kolek-tif. Nantinya, lembaga tersebut yang menyalurkan royalti ke-pada keluarga atau ahli waris pencipta lagu. “Baru jika provi-der atau perusahaan yang me-makai karya tidak bayar royalti bisa dikenai sanksi,” katanya.
Ketentuan itu terkait upaya pemerintah dalam melindungi hasil karya (lagu) ciptaan para musisi. Perlindungan dihitung seumur hidup pencipta karya, ditambah 70 tahun. Bagi Lisa A Riyanto, proyek tersebut bukan hal yang disang-ka sejak awal. Ibu empat anak itu awalnya hanya bermaksud memberi hadiah untuk sang ibu. Atas dorongan suaminya, ha-diah tersebut justru disulap menjadi proyek besar yang nanti-nya akan dipatenkan di lem-baga HAKI. “Sementara ini kami merilis 40 lagu yang merupakan karya emas A Riyanto. Nantinya akan direkam ulang secara profesio-nal,” ungkapnya. (din/ong)