SLEMAN – Kejadian tidak mengenakkan menimpa Sunlie Thomas Alexander saat akan membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta, Jalan Laksda Adisutjipto, Selasa pagi (29/12). Pria kelahiran Bangka Belitung, namun telah lama ting-gal di Jogja ini merasa dihambat saat akan mengurus paspor di kantor tersebut. Sunlie, sapaannya, menjelas-kan kejadian tak mengenakan itu terjadi, bermula ketika KTP-nya habis masa periodenya. Dia datang ke Kantor Imigrasi se kitar pukul 09.00 WIB
“Meski KTP habis masa peri-ode, tapi saya ada surat dari kantor catatan sipil yang me-nyatakan bahwa KTP sedang diurus. Sementara perekaman sudah dilakukan,” ujarnya ke-pada Radar Jogja, Selasa (29/12).Pria yang pernah mengenyam pendidikan di ISI Jogjakarta dan UIN Sunan Kalijaga itu menga-takan, awalnya pegawai setem-pat dapat menerima surat ter-sebut. Namun, kemudian dia dibawa ke sebuah ruangan dan ditemui oleh pegawai yang lebih ringgi. Sunlie diminta menunjuk-kan akte kelahiran, surat nikah, ijazah S1, dan kartu keluarga. “Semua asli. Tapi masih diper-soalkan kartu didomisli. Oke saya bisa uruskan,” terangnya.
Ternyata urusan belum selesai sampai di situ. Dia masih di-persoalkan mengenai Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indo nesia (SBKRI) yang dahulu identik dengan etnis Tionghoa. Dia diminta menunjukkan bahwa orang tuanya benar-benar WNI.”Saya keberatan, saya punya akta kelahiran. Apa urusannya dengan orang tua saya. Mereka meminta mengirim KTP orang tua saya, buat apa? SBKRI sudah dihapus oleh Keppres No 56 tahun 1996, tapi mereka masih memintanya. Ini kan diskrimi-nasi,” terangnya.
Bahkan selain itu, pegawai yang saat itu memakai batik dan mengaku bernama Bambang menyebut namanya bukan nama Indonesia. Dia lalu tersing-gung, karena di Indonesia ba-nyak sekali nama yang tidak hanya berasal dari Jawa.Sunlie menyesalkan kasus ter-sebut masih terjadi di kantor pemerintah di Jogja yang nota-bene masuk kota besar. Terlebih, saat ini bukan lagi zaman orde baru yang saat itu represif terhadap etnis Tionghoa. “Kalau di Jogja saja bisa seperti itu, bagaimana yang di daerah, di kantor-kantor lainnya,” ungkapnya.Apalagi saat ini sudah refor-masi, presiden juga menekankan revolusi mental, tapi kenapa masih saja kejadian diskrimina-tif masih terjadi. “Saya berharap, kasus seperti tidak lagi terjadi,” tandasnya.
Dia sempat mengunggah per-lakuan diskriminasi yang diteri-manya di akun jejaring sosial dan mendapat perhatian banyak netizen. Selain itu, karena pos-tingan tersebut, diia juga akhirnya dihubungi oleh pihak imigrasi yang melakukan klarifikasi. “Dihubungi dua kali, besok (hari ini) saya diminta datang ke kantor,” kata warga Jalan Parangtritis, Mantrijeron, Jogo-karyan, Jogja itu.Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta Agus Soni Murdi-anto menyatakan, kejadian ter-sebut hanya masalah komuni-kasi yang kurang baik antara petugas dengan pemohon pas-por. “Tidak harus meminta SBKRI, cukup KTP, KK, ijazah, dan surat nikah. Sunlie bahasa Indo-nesianya kan kelihatan bukan asli Jogja,” katanya.
Agus mengatakan, hal itu hanya upaya agar lebih berhati-hati dalam menerbitkan paspor Indo-nesia. Khawatir kalau dibuat modus orang asing membuat paspor Indonesia. “Tapi jarang-jarang yang modus seperti itu di Jogja. Jadi tidak ada unsur mempersulit, hanya memastikan saja,” ucapnya. (riz/ila/ong)