KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Din-sosnakertrans) menyerahkan bantuan sarana usaha untuk perluasan kesempatan kerja di sektor informal. Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo di Joglo Rumah Dinas Bupati (28/12). Jumlah penerima bantuan sebanyak 110 orang, terdiri atas tenaga kerja usia lanjut sebanyak 60 orang (2 paket), tenaga kerja muda wanita 30 orang (1 paket), serta tenaga kerja muda dari wilayah Samigaluh 20 orang (1 paket). Bantuan berasal dari APBN dan APBD. Dari APBD untuk 162 orang, sisanya APBN.”Nilai bantuan sekitar Rp 2,5 juta per orang. Tahun ini bantuan sudah disalurkan kepada 342 orang penerima yang dilakukan dalam tiga tahap. Kali ini dengan jumlah penerima 110 orang merupakan tahap terakhir,” terang Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinsosnakertrans Kulonprogo Heri Darmawan.
Heri mengatakan, bantuan merupakan bagian dari program pengembangan, peningkatan dan perluasan kesempatan kerja serta peningkatan produktivitas tenaga kerja. Khususnya terhadap tenaga kerja khusus atau rentan, yakni mereka yang sudah berusia lanjut di atas 59 tahun, tenaga kerja muda wanita, serta tenaga kerja mandiri.”Bantuan ini penekanannya kepada keman-dirian, pemberdayaan tenaga kerja. Harapannya, mereka yang sudah punya bakat keterampilan bisa berdaya dan mandiri, serta bisa menghidu-pi dirinya sendiri dan keluarga,” katanya.Dijelaskan, bantuan sarana usaha yang di-berikan juga disesuaikan dengan usaha yang telah dijalankan dan menjadi prioritas kebu-tuhan. Sebelum memberikan bantuan, calon penerima melalui proses identifikasi, rekrutmen, seleksi, dan pembekalan berupa pelatihan materi mengenai manajemen usaha serta magang kerja.
Menurut Heri, pemerintah telah berkomitmen bahwa kesempatan kerja tidak hanya milik usia produktif, penganggur, atau setengah penganggur. Melainkan juga para lansia yang tidak baik nasibnya. “Kami pemda dan pemerintah pusat mengu-payakan kerja sama, bagaimana masyarakat punya kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor informal,” ujarnya.Ditambahkan, sasaran program yakni para pemilik embrio usaha yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi wirausaha pe-mula. Alasannya, agar bantuan peralatan yang diberikan benar-benar bermanfaat, mampu meningkatkan produtivitas usaha, bahkan jika memungkinkan bisa membuka kesempatan lapangan pekerjaan. “Usaha yang telah dijalankan para penerima bantuan beragam. Ada yang bergerak di bidang kuliner, perbengkelan, jahit pakaian, jahit ku-lit, pedagang sayur keliling, dan angkringan,” imbuhnya.
Salah seorang penerima bantuan, Susana, 27, warga Purwoharjo, Samigaluh, mengaku senang mendapat bantuan pelatihan, magang, dan sarana usaha tersebut. Sejak tiga tahun terakhir, ia sudah menjalankan usaha produksi tempe dan geblek, namun masih menggunakan pe-ralatan konvensional. “Sangat membantu, semoga usaha ke depan lebih maju dan bisa untuk menghidupi keluarga. Saya sempat mangajukan bantuan gilingan ke-delai dan singkong, dan sudah diberikan. Alat itu penting untuk memacu produksi, khususnya saat banyak pesanan,” ucapnya. (tom/laz/ong)