HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
DI LAHAN SUBUR: Warga membentangkan spanduk berisi penolakan di lahan untuk penggilingan batu oleh PT Cipta Menoreh Santosa (28/12)
KULONPROGO – Warga Gegunung, Sendangsari, Pengasih, menolak pen-dirian penggilingan batu PT Cipta Menoreh Sentosa. Aksi penolakan diwujudkan dengan membentangkan spanduk penolakan di lahan calon lokasi penggilingan, tepatnya di pinggir jalan baru Gegunung-Sambiroto.Wakil Ketua DPRD Kulonprogo H Ponimin Budi Hartono SE menga-takan, ia telah memperoleh infor-masi bahwa warga Gegunung dengan tegas menolak rencana pendirian gilingan batu. Ia pun kemarin (28/12) menyempatkan diri untuk mengecek ke lapangan, namun sayang tak ada satu pun warga yang berada di lokasi untuk diminta keterangan.
Sebelumnya, Sugiono, warga Gegu-nung mengatakan, warga menolak pendirian penggilingan batu karena sawah tersebut merupakan lahan yang cukup subur. Selama ini dikontrak PT Madukismo untuk ditanami tebu. Jika tidak dikontrak, biasanya lahan akan disewa warga untuk budidaya padi.”Kami khawatir jika dijadikan peng-gilingan batu, warga sudah tidak bisa lagi menyewa lahan tersebut. Padahal lahan itu sangat dibutuhan untuk meningkatkan produksi padi dan penghasilan warga sekitar,” ujar Ketua Kelompok Tani Makmur, Pe-dukuhan Gegunung ini.
Warga lain Budi Santoso mengung-kapkan hal senada. Ia menolak aktivi-tas penggilingan batu karena juga akan menimbulkan polusi udara. Debu dari hasil penggilingan akan memba-hayakan tanaman di sekitarnya. “Kalau setiap hari tanaman kena debu dari penggilingan batu, tana-man yang ada di bulak ini bisa mati. Atau setidaknya pertumbuhan-nya akan terganggu. Oleh karena itu, kami menolak,” ungkapnya.Ponimin mengaku setuju sikap warga. Ia berharap pendirian industri tidak di lahan produktif. Industri, khu-susnya penggilingan batu, sebaiknya menggunakan lahan-lahan marginal yang sulit dikembangkan sebagai la-han pertanian. (tom/laz/ong)