SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
PENIPUAN BERLIAN: Dirreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi didampingi Kabid Humas Polda DIJ AKBP Ani Pudjiastuti dalam gelar perkara kasus penipuan berlian senilai Rp 2 miliar di Mapolda, kemarin (28/12).
SLEMAN – Jajaran Unit Jatantras Subdit I Kamneg Polda DIJ ber-hasil penipuan, dan penggelapan perhiasan dengan modus jual-beli. Tidak tanggung-tanggung, kerugian yang diderita korban dari penipuan tersebut, mencapai miliaran rupiah.Dirreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi mengungkap-kan, pelaku yang berhasil ditang-kap, yakni Tan Siong Kim alias Rony alias Anton, 59, warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan rekannya Tedi, atau LTH alias TS alias HS, 60, warga Jakarta Pusat.Hudit mengungkapkan, keja-dian bermula saat pelaku meng-hubungi korban Anton Saputro, 59, pengusaha perhiasan asal Ja-lan Ketandan Wetan, Gondoma-nan, Kota Jogja. Saat itu, pelaku berpura-pura akan membeli perhiasan berlian milik korban, serta beberapa cincin batu mulia.
Sementara sebelumnya, kom-plotan pelaku telah menyewa sebuah ruko di Jalan Pasar Kembang (Sarkem) No 29 Gedong-tengen, Kota Jogja untuk menge-labuhi korban, dan dikatakan sebagai kantor. Selanjutnya, be-ralasan sakit, TSK lalu meminta korban membawa lima buah perhiasan termasuk salah satunya berlian tersebut ke TKP.”Saat sudah di TKP, pelaku (TSK) mengajak korban berdua di se-buah ruangan berdalih agar pem-bayaran dilakukan rahasia. Saat pelaku telah mendapatkan perhi-asan, korban lalu ditinggalkan sendiri dengan dikunci di dalam kamar,” katanya saat jumpa pers di Mapolda DIJ, Senin (28/12).
Pelaku yang berjumlah 6 orang lalu kabur membawa 5 buah perhiasan dengan meninggalkan korban terkunci di dalam ruko. Sadar menjadi korban penipuan, Anton lalu menjebol tembok ru-angan yang menguncinya, lalu melapor ke Polresta Jogjakarta dengan laporan polisi: LP/614-B/XII/2015/SPKT pada Kamis (3/12) siang sekira pukul 12.15 Wib.Setelah mendapat laporan, po-lisi bergerak melakukan olah TKP dan penyelidikan. Mengingat pelaku kabur ke luar daerah, dan harus berkoordinasi dengan Polda lain, kemudian kasusnya ditangani Polda DIJ.”Tim lalu berkoordinasi dengan Bareskrim Polri dan pada Senin (14/12) berhasil ditangkap pelaku TSK, dan pada 18 Desember giliran TS yang diringkus di Jakarta beserta barang bukti. Keduanya ditahan di Rutan Polda DIJ,” terang Hudit.
Ia menjelaskan, korban tergiur pada iming-iming para pelaku, karena dijanjikan perhiasannya akan dibeli dengan harga yang mahal. Selain itu pembayarannya akan dilakukan secara cash. “Di-sepakati nilainya sekitar Rp 2 miliar. Berliannya itu yang paling mahal, sekitar lebih dari satu mi-liar,” ungkapnya.
Korban dan pelaku awalnya tidak pernah saling kenal. Pelaku TSK lalu berhubungan dengan korban melalui telepon yang dilakukan secara intens. Dia juga bertugas sebagai penyandang dana ope-rasional, termasuk untuk mem-bayar sewa ruko. “Semua enam orang dan punya tugasnya masing-masing. Terbilang rapi, karena itu kemungkinan korbannya tidak hanya satu. Pelaku juga ahli menge-nali mana berlian asli dan palsu,” terang Hudit.Kepada pelaku, polisi menjerat dengan Pasal 378 atau 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman ma-sing-masing pasal 4 tahun penjara. “Sedangkan untuk 4 orang ter-sangka lain masih kita kejar. Barang bukti saat ini kita amankan di Mapolda DIJ,” tandasnya.
Selanjutnya pihaknya mengimbau kepada masyarakat, terutama pe-miliki toko perhiasan agar lebih berhati-hati dan teliti kepada calon pembeli perhiasan. “Segera melapor ke polisi apabila menemukan tinda-kan penggelapan dan penipuan perhiasan,” pungkasnya. (riz/jko/ong)