JOGJA – Untuk kirab setelah jumenengan 7 Januari 2016 nanti, Puro Pakualaman berencana akan meminjam satu kereta milik Keraton Jogja. Kereta milik Keraton Jogja tersebut akan digunakan untuk membawa ampilan dalem. Tapi hingga saat ini, Raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono Ka 10 belum memberikan izin.
Penghageng Manggala Yudha Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat mengaku sudah ada permintaan secara lisan dari Puro Pakualaman untuk meminjam kereta Keraton Jogja, tapi belum disetujui. “Belum dapat ACC dari Ngarso Dalem, rencananya mau pinjam satu untuk ampilan,” ujarnya saat ditemui di Kepatihan, kemarin (28/12).
Gusti Yudha mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan kereta Kyai Rejo Pawoko. Kereta tersebut merupakan buatan 1901 atau pada saat kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII. Kereta tersebut berkapasitas enam orang dan ditarik empat kuda. “Sudah dipersiapkan, kondisinya juga dalam keadaan baik,” jelasnya.
Gusti Yudha menambahkan, untuk kondisi kereta pusaka milik Puro Pakualaman, kereta Kyai Manik Kumolo, saat ini masih dilakukan perbaikan. Diakuinya, kondisi perbaikan kereta sudah hampir selesai. Tinggal beberapa bagian saja yang belum selesai, seperti untuk per kereta. “Sebelum tanggal 3 Januari sudah selesai, karena akan dibuat latihan,” jelasnya.
Persiapan lain yang juga dilakukan adalah menyiapkan kuda-kuda untuk menarik kereta.Menurut dia, kuda-kuda yang disiapkan milik anggota Pordasi DIJ. Meskipun begitu, kuda-kuda tersebut tetap butuh persiapan, seperti mengajari untuk menarik kereta.
Sebelumnya, Penasihat Kepanitian Jumenengan, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Kusumo Parasto mengatakan, persiapan jumenengan 7 Januari 2016 mendatang terus dilakukan. Untuk perbaikan empat kereta pusaka milik Puro Pakualaman masih terus dikerjakan. Sementara itu untuk undangan, Kusumo mengaku, panitia masih melakukan seleksi. Termasuk untuk pejabat, serta kerajaan yang akan diundang. “Perkembangan terakhir, kerajaan-kerajaan belum, masih diseleksi, nanti ndak do meri,” ujarnya. (pra/jko/ong)