TERKESAN: Seniman dan budayawan Djaduk Ferianto cukup terkesan dengan undangan Presiden Jokowi kepada pelawak beberapa waktu lalu.

Tertawakan Dagelan di MKD, Sempat Lontarkan Sejumlah Ide

Undangan dari Presiden Joko Widodo kepada para pelawak beberapa waktu lalu menyisakan banyak kisah. Termasuk seniman dan budayawan Djaduk Ferianto yang turut diundang ke Istana Negara pada 16 Desember lalu.
DWI AGUS, Sleman
BAGINYA undangan untuk para pelawak ke Istana Ne-gara cukup mengesankan. Djaduk mengaku mendapatkan pengalaman berharga dan tak terlupakan. Dari pertemuan ini, Djaduk menyimpulkan beberapa makna. Salah satunya, upaya Jokowi menghapuskan sekat antara rakyat dan pemim-pinnya. Selain itu, juga mem-buka gerbang dialog secara langsung dengan rakyatnya.
Menurutnya, pertemuan itu merupakan salah satu sejarah di Indonesia yang tidak bisa dilupa-kan. Mungkin dari sejarah be-berapa pemimpin negeri, baru Jokowi yang mengundang pelawak ke Istana Negara. ” Tidak hanya jumpa biasa tapi mendengarkan suara kami para pelawak,” kata Djaduk ditemui di Universitas Sanata Dharma Kampus Mrican Sleman, Senin (28/12) Pertemuan yang dikemas se-cara santai itu membahas be-berapa topik. Salah satunya kasus “Papa Minta Saham” yang melibatkan pimpinan DPR RI Setya Novanto
Dalam kesempatan ini memang tidak secara gamblang dibahas. Namun, menurut Djaduk, memang bertepatan dengan kasus tersebut.Djaduk menilai, pertemuan dengan pelawak merupakan langkah politik yang cerdas, di mana sidang yang digelar oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) tidak berjalan sebagai-mana mestinya. Bahkan jauh dari etika sidang pada umumnya.”Saya dengan Butet (Butet Kerta-radjasa) langsung mbatin ini pasti ada makna lain.
Ternyata memang itu menertawakan da-gelan yang dibuat oleh MKD. Meski tidak secara jelas tapi ter-sirat dengan momentum kasus Papa Minta Saham,” kata Djaduk.Jokowi sempat memberikan pesan kepada komedian yang hadir. Yakni untuk tidak kha-watir akan lahan melawak, ka-rena para wakil rakyat sedang melakukan lawakan. Bahkan lawakan ini jelas dilakukan di-hadapan rakyat-rakyat yang telah memilihnya.”Beliau berpesan untuk tenang karena sawah tidak akan dicaplok. Ternyata sawah itu metafora dari lahan melawak kita. Setelah kita pikir ternyata itu makna dari sidang yang berlangsung di MKD,” ungkapnya.
Dalam pertemuan ini pula, Djaduk juga sempat melontarkan beberapa ide. Di antaranya, menguatkan budaya sebagai salah satu pilar bangsa. Sebab, selama ini budaya hanya diang-gap sebagai rencana cadangan.
Padahal, menurut Djaduk, budaya merupakan bagian penting dari sebuah bangsa. Menjadi karakter dan jati diri sebuah bangsa yang besar. Terlebih Indonesia memiliki ragam kebudayaan yang sangat kaya. Budaya, lanjutnya, memi-liki lingkup yang luas, tidak ha-nya kesenian. “Budaya itu me-rupakan salah satu pilar bangsa tapi dianggap sebagai ban serep (cadangan). Baru keluar diakhir-akhir ketika sudah kepepet. Padahal ini penting untuk me-nguatkan Indonesia. Ternyata responsnya bagus dari pak Jokowi,” kata Djaduk.
Wacama ini, lanjut Djaduk, mendapat respons yang sangat baik. Terbukti dua hari setelah undangan pelawak, Jokowi me-ngundang budayawan. Perte-muan ini, lanjut Djaduk, meru-pakan langkah positif dari se orang pemimpin bangsa.”Masih dalam proses peng-godogan mungkin bisa men-jadi undang-undang. Tapi merupakan langkah yang sangat kita apresiasi. Apalagi budaya sangat penting dalam membentuk karakter bangsa,” pungkasnya. (ila/ong)